Edbert Fernando & James Riady

Edbert Fernando & James Riady
Edo's Graduation from UPH College

Kamis, 19 Februari 2009

Diterimo Utawa Keterimo

Tulisan ini sebagai koreksi atas tulisan saya sebelumnya setelah mendapatkan koreksi dari rekan saya Mr. Redemptus. Filosofi Jawa menurut beliau yang benar adalah : "Wong pinter kalah karo wong duwe duit, wong duwe duit kalah karo wong bejo, wong bejo isih kalah karo wong keterimo." Artinya orang pintar kalah sama orang punya duit/kaya, orang kaya kalah sama orang beruntung, orang beruntung masih kalah sama orang keterima.

Kekeliruan dalam pemahaman saya terletak pada kata keterimo, dimana saya mengartikannya sebagai diterima. Rupanya ada perbedaan yang sangat mendasar antara keterimo dengan diterimo, sehingga tulisan saya menjadi sedikit melenceng dari filosofi Jawa yang beliau maksudkan. Arti kata wong keterimo rupanya adalah orang yang beruntung berkali-kali (hokinya gede).

Saya jadi teringat sebuah iklan Bank di radio, tentang untung berkali-kali. Dimana seorang ayah meminta anaknya memanggil kata "ayah" sangat sulit diucapkan oleh anaknya, setelah berusaha anaknya menyebut kata "eye-eye", ayahnya sangat senang lalu meminta anaknya untuk mencoba lagi, akan tetapi anaknya malah memanggil dengan "papa-papa-papa-papa" sampai berkali-kali. Mungkin kira-kira seperti itulah perbedaan antara kata bejo dengan kata keterimo, sama-sama datangnya dari Tuhan, bedanya yang satu beruntung hanya sekali-sekali, sedangkan yang satunya beruntung berkali-kali (selalu beruntung).

Sebenarnya filosofi Jawa di atas mengajarkan kita untuk tidak sombong/angkuh. Kalau kita sudah pintar bukan berarti kita bisa menang dari orang lain dalam segala hal, karena masih ada orang yang lebih hebat di atas kita. Filosofi ini juga ada di dalam filosofi Cina, "I San Hai Yui I San Kau", artinya sebuah bukit masih ada lagi bukit yang lebih tinggi.

Semula saya ingin menghapus tulisan saya sebelumnya, setelah saya pikir-pikir lebih baik saya tulis untuk mengkoreksi filosofinya saja. Kalau keterimo itu datangnya dari Tuhan, sedangkan diterimo (diterima) datangnya dari usaha keras kita supaya keterimo dan diterimo. Jadi tulisan saya yang sedikit menyimpang dari filosofi Jawa tadi dibiarkan saja untuk dijadikan pedoman hidup saya sendiri, toh tidak menyimpang dari kaedah dan prilaku manusia dalam pergaulan.

Jika kita memang tidak pintar, tidak juga kaya, lalu tidak mau berusaha, hanya berharap-harap menjadi wong bejo atau menjadi wong keterimo, maka harus dilihat apakah tabungan karma baik kita di masa lalu cukup atau tidak untuk menjadikan kita menjadi wong keterimo.
Dadi yen kepengen dadi wong diterimo utawa keterimo, pilihen dewe !!!

Selasa, 17 Februari 2009

Kalau Anda Bisa Memilih, Mau Menjadi Orang Pintar, Orang Kaya, Orang Beruntung Atau Menjadi Orang Yang Diterima ?

Tulisan ini terinspirasi oleh salah seorang rekan kerja saya pada saat makan siang kemarin. Rekan saya, Sdr. Redemptus mengatakan "bahwa orang yang bodoh akan kalah dengan orang yang pintar, orang yang pintar masih kalah dengan orang yang kaya, orang yang kaya masih kalah dengan orang yang beruntung, sedangkan orang yang beruntung masih kalah dengan orang yang diterima."

Jika kita benar-benar memahami dan mencermati kalimat di atas, maka ada benarnya juga. Kalau orang bodoh umumnya memang sering kalah dengan orang yang pintar, walau tidak semuanya karena faktor kaya, beruntung dan diterima tadi. Sedangkan orang yang pintar akan tetapi tidak kaya, sering juga kalah dengan orang yang kaya, karena orang kaya walau tidak pintar dapat membayar orang yang pintar sehingga seakan-akan orang kaya yang tidak pintar menjadi pintar dan selangkah lebih maju dari orang pintar yang tidak kaya. Namun adakalanya orang yang tidak pintar, tidak juga kaya bisa juga menjadi pemenang karena faktor keberuntungan. Yang namanya keberuntungan tidak selalu datang terus-menerus, sehingga orang yang beruntung menjadi pemenang juga hanya sekali-sekali. Untuk itu perlu menjadi orang yang diterima.

Orang yang kaya ada dua jenis, yang pertama adalah orang kaya karena faktor orang tua yang sudah kaya dan diwariskan kepadanya sehingga menjadi orang kaya, sedangkan yang kedua adalah orang yang sebelumnya tidak kaya lalu berusaha keras sendiri, berhasil dan menjadi orang kaya. Jadi untuk menjadi kaya tidak sepenuhnya dapat kita lakukan, adakalanya faktor nasib dan keberuntungan yang menentukan. Nasib baik kita dilahirkan di keluarga yang kaya, atau usaha keras kita berhasil karena dewa keberuntungan berpihak kepada kita.

Untuk menjadi orang yang beruntung juga tidak dapat kita lakukan sendiri, tetapi lagi-lagi datangkan dari Tuhan. Kita hanya bisa berusaha, akan tetapi keberuntungan bukanlah kita yang mengaturnya.

Jadi apa yang bisa kita perbuat ? Kalau di suruh untuk memilih, di antara menjadi orang yang pintar, orang yang kaya, orang yang beruntung atau orang yang diterima, mana yang anda pilih ? Tentunya pilihannya hanya boleh satu. Jika anda memilih menjadi orang yang pintar berarti harus menjadi orang yang tidak kaya, tidak beruntung dan tidak diterima, jika anda memilih orang yang kaya berarti anda harus terima resiko menjadi orang yang tidak pintar, tidak beruntung dan tidak diterima.

Hidup ini sebenarnya memang dihadapkan pada pilihan-pilihan. Takdir Tuhan tidak dapat kita merubahnya, kita dilahirkan sebagai pria tidak dapat kita merubahnya. Akan tetapi kita dapat merubah nasib kita. Jika kita dilahirkan di keluarga yang tidak kaya, bukan berarti kita tidak bisa menjadi kaya, kalau kita berusaha keras, tidak pasrah pada nasib awal kita, suatu saat dewa keberuntungan berpihak kepada kita, mungkin kita pun bisa menjadi kaya.

Bagaimana dengan orang yang diterima, apa maksudnya ? Kita mungkin bisa menjadi kaya, sekali-sekali kita mendapatkan keberuntungan, akan tetapi apakah kita termasuk orang yang diterima. Lalu bagaimana untuk menjadi orang yang diterima ?

Sebentar lagi negara kita akan menghadapi Pemilu. Banyak sekali caleg dan capres, cawapres yang mulai berkampanye "menjual diri" masing-masing. Apa gunanya kampanye, supaya orang tahu siapa mereka, apa yang dijanjikan kalau dia terpilih nanti. Intinya para caleg, capres, cawapres ingin menjadi orang yang diterima. Mungkin para caleg, capres, cawapres termasuk kelompok orang yang pintar, mereka umumnya juga cukup kaya dan tentu saja cukup beruntung bisa terdaftar sebagai calon. Hanya saja apakah mereka sudah cukup berbuat untuk negara dan bangsa ini untuk supaya diterima oleh masyarakat yang jauh lebih luas yakni mayoritas masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Jadi untuk menjadi orang yang diterima itu tidaklah gampang. Akan tetapi untuk menjadi orang yang diterima tidak tergantung kepada takdir dan nasib, namun kepada usaha kita masing-masing. Untuk menjadi orang yang diterima, tentu kita harus memiliki daya tarik tersendiri, berwibawa, santun, toleransi dan segala sifat baik menurut penilaian orang lain bukan penilaian kita sendiri. Tentukan ciri-ciri ini ada pada capres dan partai yang mana, ayo ?

Semoga anda menjadi orang yang pintar, gigih dan berjuang keras menjadi orang yang kaya, berdoalah kepada yang Maha Kuasa untuk mendapatkan keberuntungan. Yang terakhir tentunya semoga anda menjadi orang yang diterima disisi-NYA.

Senin, 16 Februari 2009

Berdamai Dengan Waktu

Setiap hari kita selalu merasa waktu mengejar-ngejar kita kalau kita yang mendahuluinya. Sedangkan pada saat kita ditinggal oleh sang waktu kita juga berusaha mengejar-ngejar dia. Dari kita bangun tidur di pagi hari, kita menghendaki waktu menunggu kita dalam mempersiapkan diri kita menuju ke suatu tempat, akan tetapi waktu terus menerus berdetak tanpa memperdulikan kita.

Andai saja waktu itu berhenti berdetak, maka segala sesuatu di dunia ini akan tampak abadi. Segala sesuatu akan diam termasuk manusianya. Jadi antara makhluk hidup dan benda mati tidak ada bedanya. Untuk itu waktu harus berdetak, walau kita diam.

Sebuah legenda kuno menceritakan tentang seorang malaikat di langit yang melakukan ritual pengorbanan pada Pencipta Alam Semesta. Pemujaannya sangat menyentuh Sang Pencipta, sehingga Ia mengatakan malaikat itu boleh meminta satu permintaan. Malaikat itu meminta keabadian. Sang Pencipta tampak bingung. Ia mengatakan bahwa ini adalah satu hal yang tidak bisa dikabulkan-Nya. "Semua hal", kata-Nya, "akan tertelan oleh waktu, bahkan ide-ide manusia tentang Tuhan dan Penciptaannya."

Mungkin kita sering mendengar orang mengatakan "nanti saya coba atur waktunya". Padahal apakah waktu itu bersedia untuk kita atur-atur. Waktu adalah tuan yang paling susah diatur. Kita berlari waktu tetap dengan santai sesuai dengan iramanya berdetak, pada saat kita diam, waktu tidak mau diam tetapi tetap saja berdetak dengan tenang. Namun pada saat kita fokus dan berkonsentrasi pada tugas bukan pada waktu, maka tugas itu akan selesai tepat pada waktunya atau bahkan lebih cepat dari yang kita bayangkan. Pada saat kita fokus pada tugas, seakan-akan waktu berhenti berdetak dan menatap kita.

Kita tidak sadar, sebenarnya kita selalu ditemani oleh sang waktu. Dia berada di mana-mana, dia sudah ada sejak kita belum ada, dia juga tetap ada walau kita sudah tiada. Kita sering ingin menguasai dan mengatur sang waktu, namun pada kenyataannya kita justru sering dikuasai dan diatur oleh sang waktu.

Waktu 1 jam akan berbeda bagi orang yang berbeda. Bagi orang yang sedang menunggu, waktu 1 jam akan terasa sangat lama, orang yang sedang mengejar waktu, 1 jam akan terasa sangat cepat.

Manajemen waktu sebenarnya bukanlah tentang mengatur waktu, akan tetapi tentang mengatur diri kita untuk menyesuaikan dengan sang waktu. Berlindunglah dalam waktu, berhentilah mengaturnya, berdamailah dengannya. Berdamai dengan waktu berarti berdamai dengan diri kita sendiri. Jika waktu kita sudah habis, dengan uang berapapun kita tidak dapat membeli waktu walau hanya sekejab. Bagi kita sendiri, waktu itu baru ada kalau kita ada, waktu itu dikatakan habis kalau kita sudah tiada. Jadi manfaatkanlah waktu kita dengan sebaik-baiknya sebelum waktu kita habis dan berhenti menemani kita.

Kamis, 05 Februari 2009

Ketika Garam Lebih Bernilai Dari Pada Intan Dan Permata

Konon ada satu cerita mengenai seorang raja yang mempunyai 3 orang anak putri. Pada suatu hari Sang Raja bertanya kepada ketiga anak putrinya, "putri-putriku apakah kalian sungguh menyayangi ayah ?"

Putri yang pertama berkata, "oh tentu saja ayah, saya sangat menyayangi ayah bagaikan menyayangi emas dan berlian yang indah". Putri yang kedua juga mengatakan hal yang hampir sama, "saya menyayangi ayah bagaikan menyayangi intan dan permata yang mahal". Sang Raja tertawa, beliau sangat senang dan bahagia setelah mendengar kata-kata kedua putrinya itu.

Giliran putrinya yang ketiga, mengatakan hal yang agak berbeda dengan kakak-kakaknya. "Saya juga menyayangi ayah bagaikan menyayangi garam yang murah". Mendengar kata-kata putrinya yang ketiga, Sang Raja langsung marah. "Apakah kamu anggap ayah ini murah dan tidak berharga, percuma selama ini ayah menyayangimu, pergi kamu dari sini !" Sang Raja membentak dan mengusir putrinya yang ketiga dari kerajaan. Putri ketiga meninggalkan kerajaan dengan membawa satu bungkusan besar yang tidak tahu apa isinya.

Hari demi hari berlalu, dan datanglah bencana badai, dimana pada waktu itu garam semakin sulit dicari. Terpaksa masakan di kerajaan tanpa dibubuhi garam. Sang Raja mulai kehilangan napsu makan dan jatuh sakit. Putri yang pertama dan kedua kelihatan tidak perduli kepada ayahnya. Sang Raja mulai teringat akan putrinya yang ketiga yang telah dia usir.

Seorang dayang diam-diam pergi mencari putrinya yang ketiga. Akhirnya bertemu juga dengan putri Raja yang tiga. Dayang ini menceritakan keadaan ayahnya yang sedang jatuh sakit dan membujuknya untuk pulang. Putrinya bersedia pulang tetapi dengan menyamar sebagai seorang juru masak di kerajaan.

Putri ketiga ini masih menyimpan banyak sekali persediaan garam yang dia bawa pada saat dia meninggalkan kerajaan. Setiap kali memasak tidak lupa dia membubuhi masakannya dengan sedikit garam. Sang Raja mulai menyukai masakan putrinya, namun tidak mengetahui bahwa juru masak itu adalah putrinya sendiri yang sudah dia usir dari kerajaan. Singkat cerita Sang Raja pun akhirnya sehat kembali.

Suatu hari penyamaran putrinya diketahui juga oleh Sang Raja. Sang Raja sangat senang dan gembira. Sang Raja mulai sadar bahwa apa yang dikatakan oleh putrinya tentang menyayangi Sang Raja bagaikan menyayangi garam yang murah ternyata tidaklah salah.

Kita selalu menilai sesuatu dengan harga sebagai ukuran, bahwa sesuatu bernilai karena harganya mahal, sesuatu kurang bernilai jika harganya murah. Pada kenyataannya tidak selalu demikian, tidak selalu barang yang harganya murah tidak bernilai, seperti halnya dengan garam.

Pernahkan kita membayangkan sesuatu yang murah seperti garam ternyata sangat bernilai dan berguna. Apakah jadinya jika dunia ini tanpa garam, mungkin makanan akan menjadi terasa hambar. Mungkinkah garam itu dapat digantikan dengan emas, berlian, intan dan permata ? Memang emas, berlian, intan dan permata terlihat lebih berkilau dari pada garam. Harganya pun mahal bahkan sangat mahal dibandingkan garam yang murah bahkan sangat murah, akan tetapi suatu ketika garam tidak ada, apapun tidak sanggup menggantikan fungsinya.

Maknanya bukan suruh makan garam yang banyak, ingat konsumsi garam yang terlalu berlebih bisa menyebabkan tekanan darah tinggi. Akan tetapi maknanya adalah untuk menghargai hal-hal yang biasanya kita sepelekan, kita pandang rendah, untuk kita lebih menghargai termasuk lebih menghargai para pembantu kita.

Sabtu, 31 Januari 2009

KRISIS EKONOMI GLOBAL DAN PERUBAHAN DUNIA

Akhir-akhir ini kata-kata global economic crisis/krisis ekonomi global sering sekali kita dengar. Bahkan anak kecilpun mulai bertanya apa yang dimaksud dengan krisis ekonomi global, krisis keuangan, inflasi, deflasi dan kata-kata yang berhubungan dengan pemberitaan masalah krisis ekonomi global.

Pertanyaan tersebut jika ditujukan kepada kita bagaimana kita menjawabnya ? Mungkin banyak orang tua yang menjelaskan kepada anaknya dengan jawaban yang sangat sederhana saja, bahwa segala pertanyaan yang berhubungan dengan krisis itu adalah hidup semakin sulit, cari makan semakin susah, harga barang semakin mahal, lapangan pekerjaan semakin berkurang, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan-perusahaan.

Akan tetapi jawaban di atas sebenarnya adalah gejala terjadinya krisis ekonomi atau dampak dari pada krisis ekonomi global itu sendiri. Jika anak kecil menanyakan lebih lanjut mengapa hidup itu semakin sulit, mengapa harga barang menjadi mahal, siapa yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global ? Jadi apa jawabannya lanjutannya ?

Pernahkah kita merenungkan penyebab terjadinya krisis ekonomi itu sendiri dan bagaimana cara mencegahnya ? Sebagai orang awam, memang sulit bagi kita untuk memahami terjadinya krisis ekonomi global.

Mungkin kita pernah belajar di sekolah atau di bangku kuliah dulu, apa yang disebut dengan hukum permintaan dan hukum penawaran. Hukum permintaan kalau tidak salah yang saya ingat adalah "Harga-harga akan naik jika permintaan bertambah, harga-harga akan turun jika permintaan berkurang (ceteris paribus/kondisi yang lain-lain tidak berubah)". Sedangkan hukum penawaran adalah kebalikan dari hukum permintaan, yakni "Harga-harga akan naik jika penawaran berkurang, harga-harga akan turun jika penawaran bertambah (ceteris paribus/kondisi yang lain-lain tidak berubah)".

Pada saat terjadinya krisis apakah hukum permintaan dan hukum penawaran tetap berlaku. Jika memang masih berlaku, seharusnya tidak terjadi krisis ekonomi global, karena penjual barang akan mendapatkan keuntungan, penjual jasa akan mendapatkan penghasilan. Pembeli barang akan mendapatkan barang yang dibutuhkan, pembeli jasa akan mendapatkan jasa yang dibutuhkan. Pada saat krisis ekonomi orang tetap membutuhkan jasa orang lain, tetap membutuhkan barang yang dihasilkan orang lain, tetap membutuhkan makanan dan pakaian, tetap membutuhkan perumahan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bahkan penduduk semakin bertambah kebutuhan juga semakin banyak, karena permintaan semakin meningkat. Penduduk bertambah, artinya ada regenerasi, anak-anak tumbuh menjadi besar, remaja tumbuh menjadi dewasa, sehingga semakin banyak orang yang produktif untuk menghasilkan barang dan jasa.

Masalahnya terletak pada penekanan kata akhir dari hukum permintaan dan hukum penawaran yang tidak terpenuhi, yakni ceteris paribus/kondisi yang lain-lain tidak berubah. Pada kenyataannya kondisi yang lain-lain telah berubah, jadi tidak lagi ceteris paribus. Seharusnya tidak ada peperangan, kenyataannya masih banyak terjadi peperangan, tidak ada bencana alam, kenyataannya banyak bencana alam, tidak saling menguasai, kenyataannya perebutan wilayah kekuasaan, dan lain-lain yang setiap hari selalu berubah. Perubahan-perubahan itu yang membuat ketidak seimbangan global. Di dalam dunia keuangan, jika ada yang terlalu banyak meminjam, sedangkan di sisi lain ada yang terlalu banyak menyimpan dana/menabung akan terjadi krisis keuangan. Dalam hal krisis keuangan global saat ini, mungkin negara-negara Barat termasuk Amerika terlalu banyak meminjam, sedangkan negara-negara Asia terutama Cina terlalu banyak menabung (cadangan devisa Cina saat ini hampir mencapai 2 trilyun Dollar Amerika), sehingga timbul ketidak seimbangan dalam perputaran keuangan dunia, maka terjadilah krisis keuangan global.

Bagaimana dengan Indonesia ? Indonesia dalam hal ini sama dengan Barat yang terlalu banyak meminjam. Sedangkan peperangan dalam arti sesungguhnya memang tidak ada, namun "peperangan di panggung politik" tetap terjadi, banyak terjadi perbedaan pendapat, banyak pendirian partai politik, banyak calon presiden, banyak yang tidak bisa terima kekalahan. Sementara bencana alam juga sering terjadi. Jadi juga tidak ceteris paribus dan tidak ada keseimbangan dalam perekonomian, politik dan lingkungan alam.

Yang lebih parah lagi adalah negara-negara miskin seperti Ethiopia, Mozambik dan Zimbabwe. Beberapa hari yang lalu saya membaca di koran bahwa di negara Zimbabwe, 7 juta penduduknya kelaparan. Tingkat pengangguran mencapai 94%, dari 12 juta penduduk hanya 480.000 orang yang memiliki pekerjaan. Tingkat inflasi mencapai 231 juta persen. Pemerintah rezim Presiden Robert Mugabe terus melakukan pencetakan uang, sehingga mata uang Dollar Zimbabwe menjadi sangat kecil. Pertengahan Januari 2009 pemerintahnya mengeluarkan lagi pecahan uang kertas baru senilai $10.000.000.000.000 (10 triliun dollar) yang setara dengan Rp. 330.000. Untuk membeli barang kecil saja membutuhkan uang ratusan miliar dollar.

Jadi kita masih beruntung, mata uang Rupiah kita nilainya masih jauh lebih tinggi dari dollar, walaupun dollar Zimbabwe, kalau dihitung-hitung Rp. 1 masih bernilai $30.000.000. Jadi semua orang Indonesia bisa jadi triliuner atau paling tidak jadi miliarder kalau pindah ke negara Zimbabwe. Cuma jangan kaget jika harga 1 mangkok bubur ayam di sini dapat dibeli dengan
Rp. 5.000, di sana mungkin $150.000.000.000 (150 miliar dollar), itupun kalau ada yang jual.

Kembali kepada masalah krisis ekonomi global, sebenarnya siapa yang beruntung ? Saat ini semua negara di dunia kelihatannya sedang mengalami krisis ekonomi atau paling tidak sedang mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi kita tetap masih lebih beruntung tinggal di Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia bukan warga negara Zimbabwe, paling tidak yang sedang membaca blog ini pasti lebih beruntung dari yang lain, karena masih mempunyai waktu untuk membaca blog, kalau lapar dengan Rp. 5.000 kita bisa beli bubur ayam ataupun siomai keliling di sekitar rumah kita mungkin tidak terlalu sulit kita peroleh.

Generasi kita juga sangat beruntung, sebagai warga negara Indonesia, kita sudah pernah mengalami 2 kali krisis ekonomi. Yang pertama pada saat krisis ekonomi di Asia pada tahun 1998. Setelah 10 tahun, tahun 2008 terjadi lagi krisis ekonomi global, sehingga generasi kita saat ini semakin berpengalaman dalam menghadapi krisis ekonomi. Pada saat terjadinya krisis ekonomi tahun 1998, manusia semakin kreatif. Memang banyak lapangan pekerjaan yang hilang, akan tetapi banyak juga lapangan pekerjaan diciptakan pada saat krisis ekonomi, bahkan banyak wirausaha/wiraswasta baru muncul pada saat krisis.

Krisis ekonomi global terjadi, karena situasi dunia yang terus menerus berubah. Masalahnya adalah bagaimana kita menyikapi setiap perubahan yang terjadi. Apakah kita siap dengan perubahan yang ada. Kita sendiri juga selalu berubah, memang kita dituntut untuk merubah. Hanya saja berubah ke arah positif (perbaikan) atau berubah ke arah negatif (keburukan). Kita tidak dapat merubah dunia, kita tidak dapat merubah orang lain, kita tidak dapat melawan takdir Tuhan, akan tetapi kita dapat merubah diri kita sendiri. Hanya diri kita sendiri yang dapat menentukan ke arah mana kita mau berubah.

Selamat kepada anda yang mau berubah ke arah yang positif !
Semoga masing-masing kita berubah ke arah yang positif dapat melawan krisis ekonomi global, dan kita semakin kreatif dalam berkarya dan mencipta !

Sabtu, 27 Desember 2008

SYUKUR ATAS NIKMAT DAN KARUNIA TUHAN

Di penghujung tahun 2008 ini, saya mencoba merangkai 3 hal yang saya dengar dan saya terima sms dari seorang teman, di mana ketiga hal tersebut saling berkaitan yang saya beri judul "SYUKUR ATAS NIKMAT DAN KARUNIA TUHAN".

Yang pertama saya mendengar dari Radio Heartline FM beberapa hari yang lalu dalam acara Heartline Inspiration. Konon ceritanya, ada 2 Malaikat turun ke bumi, satu Malaikat yang sudah tua, dan satu lagi Malaikat yang masih muda. Kedua Malaikat berjalan ke rumah-rumah penduduk. Malam di hari pertama mereka mendatangi rumah orang yang sangat kaya, rumahnya sangat besar untuk menumpang menginap di sana. Pemilik rumahnya sangat kikir, mereka tidak dikasih menginap di kamar tidur atau bahkan di ruang tamu sekalipun, akan tetapi mereka menempatkan kedua Malaikat tersebut di gudang bawah tanah. Malaikat tua melihat dinding di gudang bawah tanah sudah retak, maka dengan sekejab mata Malaikat tua menambal dinding-dinding gudang bawah tanah yang retak tersebut. Malaikat muda bertanya kepada Malaikat tua kenapa dia harus melakukan hal tersebut. Malaikat tua menjawab "bahwa segala sesuatu tidak harus dilihat dari apa adanya". Malaikat muda agak sedikit bingung. Malam hari berikutnya mereka mendatangi rumah orang petani yang sangat miskin, namun pemilik rumah sepasang suami istri sangat ramah dan mau berbagi. Kedua Malaikat diberikan makan walau hanya nasi putih dan sedikit sayur yang ditanamnya sendiri. Bahkan untuk tidur kedua Malaikat ditempatkan di kamar tidurnya. Di tengah malam, Malaikat muda mendengar ada orang sedang menangis. Dia keluar dan dilihatnya sepasang suami istri yang sedang mentangisi sapi satu-satunya yang sudah mati. Malaikat muda menyampaikan kepada Malaikat tua untuk segera membantunya. Malaikat tua hanya mengatakan bahwa "segala sesuatu tidak harus dilihat dari apa adanya". Malaikat muda mulai agak marah kepada Malaikat tua, lalu mengatakan "mengapa anda tidak berusaha membantu orang yang sedang susah, bahkan mereka sudah baik terhadap kita, bahkan sangat baik, sedangkan malam sebelumnya di gudang bawah tanah di rumah orang kaya yang kikir itu, anda membantu menambal tembok gudang yang sudah retak". Lalu Malaikat tua menjelaskan kepada Malaikat muda, "bahwa kemarin di rumah orang kaya yang kikir itu, saya menambal tembok yang retak, karena saya melihat ada banyak sekali emas dari celah tembok yang retak itu, sehingga saya menutup celah tembok itu supaya orang kaya yang serakah itu tidak bisa melihatnya. Malam ini Malaikat penjemput maut datang untuk mengambil nyawa istri petani itu, sehingga saya menukarkan nyawa istrinya dengan nyawa sapinya.

Cerita yang kedua, adalah yang saya dengar dari atasan saya bahwa di bulan Desember 2008, atasan saya sedang mengalami musibah yang beruntun, dari anaknya mengalami kecelakaan, mobilnya penyok, rumahnya kemalingan dan terakhir Mamanya masuk rumah sakit. Hal ini diceritakan kepada boss saya. Boss saya dengan bijak, mengirimkan sms dalam bahasa Inggris kepada atasan saya. Atasan saya menceritakan kepada kami pada waktu kami sedang berlibur di Puncak tanggal 19 Desember 2008 yang lalu. Inti dari sms boss saya kepada atasan saya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira seperti ini : "bahwa tut piano terdiri dari tut berwarna putih dan tut berwarna hitam, tut putih melambangkan hal-hal yang baik, kesenangan dan kegembiraan, sedangkan tut hitam melambangkan hal-hal yang buruk, kesedihan dan musibah. Jika piano itu dimainkan dengan benar akan menghasilkan musik yang sangat indah". Itulah hidup ini, tidak selalu harus senang dan gembira terus menerus, kadang-kadang kita mengalami hal-hal yang buruk, mengalami musibah, kita sedih. Akan tetapi dibalik kesedihan kadang-kadang justru mendatangkan kegembiraan. Jadi janganlah kita menyalahkan takdir Tuhan. Kita tidak tahu apa yang sedang direncanakan Tuhan kepada kita, namun asalkan kita terus berbuat baik, saya yakin Tuhan akan membuat rencana yang terbaik untuk kita yang tidak seorangpun manusia di dunia ini dapat melakukannya.

Cerita yang ketiga adalah saya terima sms dari seorang teman pada Hari Raya Natal 25 Desember 2008 beberapa hari yang lalu. Isi sms-nya adalah sebagai berikut "Aku minta pada TUHAN setangkai bunga segar, IA beri aku kaktus berduri. Aku minta pada TUHAN binatang mungil nan cantik. IA beri aku ulat berbulu. Aku sedih, protes dan kecewa ...... Betapa tidak adilnya ini ...... Namun kemudian ........, kaktus itu berbunga, indah bahkan sangat indah, dan ulat itupun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang amat cantik. Itulah jalan TUHAN, indah pada waktunya ...!!! TUHAN tidak memberi apa yang kita harapkan, tetapi IA memberi apa yang kita perlukan". Kadang kita sedih dan kecewa, terluka, tapi jauh di atas segalanya, IA sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita. TUHAN MAHA SEGALANYA. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang pandai bersyukur atas karunia dan nikmat yang diberikan TUHAN. Ini adalah sms yang terindah yang saya terima pada tahun 2008.

Ketiga cerita di atas patutlah kita renungkan, apakah kita sudah cukup bersyukur atas nikmat dan karunia TUHAN. Seperti dalam lagu Laskar Pelangi yang dinyanyikan oleh Nidji, walau dunia tidak seindah surga, bersyukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia selamanya.

Kita tidak tahu apa yang sedang direncanakan oleh TUHAN kepada kita masing-masing di tahun 2009 mendatang. Apapun yang akan terjadi di tahun 2009 harus kita hadapi dengan optimis dan terus berkarya, tentu jangan lupa juga untuk bersyukur !!!

Coba tanyakan pada diri kita sendiri, apa yang sudah kita lakukan di tahun 2008, ada apa yang masih kurang ?Apakah kita sudah cukup berbagi kepada sesama ? Mungkin kita tidak perlu sampai berbagi tempat tidur kepada orang lain, seperti yang dilakukan oleh petani miskin di atas. Justru di zaman sekarang ini kita harus waspada terhadap orang asing yang tidak kita kenal datang ke rumah kita, apalagi mau numpang menginap, jangan harap ada Malaikat yang datang seperti cerita di atas. Apakah anda sudah mengintip celah-celah tembok yang retak di rumah anda ? Mungkinkah ada emas yang tersimpan di dalamnya ???!!!

Merry Chrismas 25 December 2008 & Happy New Year 1 January 2009

Minggu, 30 November 2008

"Bodoh", "Kepepet", "Berani Nekat" Bisa Jadi Pengusaha

Tidak terasa kita sudah berada di ujung tahun 2008. Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2008 ini dan menyongsong tahun 2009 yang menurut berbagai kalangan baik itu pengusaha, pengamat, politisi maupun para eksekutif muda sebagai tahun yang semakin sulit dari tahun 2008. Dimana tahun 2009 juga bertepatan dengan pelaksanaan Pemilu di negeri kita tercinta ini.

Dikatakan tahun yang sulit karena beberapa bulan belakangan ini telah terjadi krisis ekonomi global yang melanda hampir seluruh dunia. Bahkan negara China yang tingkat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dan stabil sekalipun juga sudah mulai mengalami perlambatan. Dimana China yang sangat mengandalkan ekspor mungkin akan mengalami penurunan karena negara-negara yang sedang mengalami krisis ekonomi akan mengurangi impornya. Indonesia, menurut Menkeu Sri Mulyani Indrawati, kalau pesimis kemungkinan pertumbuhan hanya sekitar 4,5%, sedangkan target APBN pertumbuhan sebesar 6%. Mengacu pada tahun 2008 bahwa setiap pertumbuhan ekonomi 1% dapat menyerap tenaga kerja sebesar 702.000 orang, maka dengan penurunan pertumbuhan ekonomi 1,5% akan timbul pengangguran lebih dari 1 juta tenaga kerja, dan saat ini pengangguran terbuka sudah mencapai 9,4 juta pekerja. Apakah kita harus menambah jumlah penganggur yang sudah begitu besar, atau kita juga dapat membantu pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan baru untuk mengurangi jumlah pengangguran ?

Koran Kompas tanggal 1 Desember 2008 memuat berita utama "Jumlah PHK Meroket". Pada analisa ekonomi oleh Rhenald Kasali juga membahas hal yang sama dengan topik "Resesi, Depresi, dan PHK", dimana dikatakan bahwa menurut Harvey Brenner, setiap 10% kenaikan penganggur, kematian naik 1,2%, serangan jantung 1,7%, bunuh diri 1,7% dan harapan hidup berkurang 7 tahun.

Kalau memang benar angka-angka tersebut di atas, maka manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna justru bisa dikatakan paling rapuh di dunia ini, lebih rapuh dari pada burung atau bahkan cacing tanah. Burung yang tidak memiliki mata pencaharian tetap, tidak memiliki kantor, tidak juga punya toko, masih tetap optimis terbang setiap pagi mencari makanan untuk mempertahankan hidup. Kalau mendapat makanan harus dibawa pulang untuk anak-anaknya. Kadang terbang ke sana ke mari tidak mendapatkan makanan, tetapi burung tidak frustasi dengan bunuh diri, membenturkan kepalanya ke tembok atau ke pohon. Cacing tanah yang tidak punya tangan dan kaki atau bahkan kita tidak tahu apakah cacing tanah punya mata dan telinga juga tetap optimis untuk mempertahankan hidup. Kita tidak melihat cacing tanah dengan sengaja keluar dari tanah untuk bunuh diri. Jadi apakah kita tidak malu dengan burung dan cacing tanah ? Kalau sampai kita mengalami frustasi apalagi sampai bunuh diri, kita bisa ditertawai oleh cacing tanah.

Ada yang mengatakan bahwa saat ini yang sedang mengalami krisis terlebih dahulu adalah para pemilik modal, pemegang portofolio yang notabene adalah orang-orang kaya menurut kacamata kita. Sebentar lagi krisis ini akan merembet pada perusahaan-perusahaan yang kemudian tentu akan sampai kepada kita juga sebagai pekerja.

Ini bukanlah bermaksud untuk menakut-nakuti, akan tetapi bagaimana kita menyikapi dampak resesi ekonomi dunia yang cepat atau lambat juga mungkin akan mampir pada ekonomi rumah tangga kita masing-masing. Apakah kita harus bersikap pesimis dengan keadaan ini. Seharusnya tidak, menurut Rhenald Kasali bahwa "orang yang kepepet bisa hijrah jadi pengusaha asalkan lingkungannya kondusif ". Pertanyaannya adalah apakah lingkungan kita sudah kondusif untuk kita hijrah jadi pengusaha ? Mungkin masing-masing kita juga masih belum mengerti lingkungan kondusif itu seperti apa. Kalau menurut pemahaman saya lingkungan kondusif adalah adanya faktor pendukung.

Beberapa hari yang lalu dalam perjalanan pulang dari kantor saya mendengarkan radio Trijaya FM dalam acara Life Excellance bersama Jamil Azzaini. Menurut beliau bahwa seseorang kadang dapat menjadi seorang pengusaha yang sukses, yang pertama karena "bodoh" dan yang kedua karena "kepepet". Orang yang "bodoh" dalam hal hitung menghitung justru lebih cepat mengambil keputusan memulai suatu usaha dibandingkan dengan orang yang pintar menghitung, pintar membaca laporan keuangan dan pintar dalam hal analisa untung rugi. Mungkin pernyataan beliau ada benarnya juga.

Sering kita mendengar orang ingin memulai suatu usaha karena adanya dukungan keuangan dari orang tua, saudara atau teman tetapi tidak tahu harus memulai dari mana, tidak tahu mau usaha apa, mungkin karena belum benar-benar kepepet. Orang yang kepepet biasanya justru banyak akal.

Menurut saya tidak hanya faktor "bodoh" dan "kepepet" yang dapat membuat kita hijrah menjadi pengusaha. Jika anda berprofesi sebagai seorang Akuntan yang notabene jagoan soal hitung-menghitung dan analisa, dan anda tidak sedang kepepet, bukan berarti harus menjadi "bodoh" dulu supaya bisa hijrah menjadi pengusaha. Ada faktor yang lebih penting lagi adalah keberanian mengambil resiko. Adakalanya orang yang kepepet justru semakin takut mengambil resiko. Misalnya seorang karyawan yang terkena PHK kadang akan takut mencoba buka usaha sendiri. Takut modalnya yang tidak seberapa dari uang pesangon dibuat usaha ternyata rugi, modalnya amblas. Akhirnya lebih baik melamar pekerjaan baru, kirim lamaran ke sana ke mari dan memenuhi panggilan interview yang kadang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Tidak jarang ada yang sampai frustasi karena dananya habis hanya untuk biaya fotocopy, kirim lamaran, ongkos perjalanan dan biaya hidup lainnya namun pekerjaan belum juga didapat.

Meminjam istilah Pak Ciputra "Mengubah Sampah Menjadi Emas". Kawasan Ancol yang dahulu terkenal dengan daerah jin membuang anak diubah menjadi "Disneyland"-nya Jakarta. Pak Ci yang juga adalah seorang Insinyur pasti tidak bodoh soal hidung menghitung, dan apakah Pak Ci pada waktu itu sedang kepepet. Saya rasa tidak ! Akan tetapi lebih pada keberanian beliau mengambil resiko.

Saya memulai usaha sendiri pada awal tahun 2004 bisa dikatakan dari nol (tidak punya pengalaman sama sekali dalam bidang usaha yang saya geluti). Sebagai seorang Finance Manager tentunya juga sangat mengerti soal hitung menghitung, jadi dapat dikatakan tidak bodoh bahkan mungkin agak nyelimet soal hitung menghitung. Waktu itu saya juga tidak sangat kepepet (kalau mau jujur mungkin ada juga sedikit kepepet). Mungkin faktor utama waktu itu adalah keberanian mengambil resiko (nekat). Justru dengan modal nekat itu pula yang menjadikan saya sebagai seorang pengusaha, walau masih dalam skala kecil, yang penting kan tetap pengusaha (lebih tepat disebut pengusaha khusus hari Sabtu), karena hari Senin sampai dengan Jumat sudah 2 tahun kembali menjadi karyawan, sedangkan usaha saya tetap berjalan dan sudah dapat dijalankan oleh istri.

Beberapa hari yang lalu saya baru membaca di koran, bahwa kata krisis dalam bahasa Mandarin disebut Wui Ci yang berasal dari kata Wui Sien (bahaya) dan Ci Hue (kesempatan). Jadi kata krisis mengandung arti bahaya kesempatan. Menurut saya setiap kesempatan selalu mengandung bahaya (resiko), orang yang menghindar dari resiko sering mengsia-siakan kesempatan, kesempatan yang hilang itulah yang membuat kita mengalami krisis. Ingat "Opportunity Never Come Twice". Jadi cari peluang usaha yang mungkin dapat kita lakukan untuk menyongsong tahun 2009 dengan lebih optimis. Misalnya usaha jual baju kaos Partai Politik atau usaha sablon mungkin cukup menjanjikan.

Sabtu, 29 November 2008

Compress Time/Compress Waktu

Melanjuti tulisan saya sebelumnya mengenai "Menghayal Waktu Ada 25 Jam Dalam Sehari". Kali ini saya masih mencoba untuk menghayal ada tambahan waktu 1 jam dalam sehari. Andaikan waktu itu dapat ditabung, sehingga kita dapat mempergunakan pada saat kita sangat membutuhkan tambahan waktu. Misalnya kita ingin menghadiri suatu pertemuan penting, tetapi di jalan kita terjebak dalam kemacetan yang mengakibatkan kita hadir terlambat, supaya tidak terlambat kita keluarkan tabungan waktu kita, atau pada saat kita kurang cukup istirahat karena suatu keperluan yang mengharuskan kita tidur terlambat dari biasanya, kita keluarkan tabungan waktu kita untuk tidur.

Akan tetapi apakah mungkin hal ini dapat terjadi, karena seperti dalam tulisan saya sebelumnya bahwa waktu yang diberikan kepada setiap orang selalu sama yakni 24 jam dalam sehari. Untuk mendapatkan tambahan waktu 1 jam sehari kita perlu melakukan compress waktu. Tentunya para pembaca sudah tahu istilah komputer "compress file" atau "zip". Dimana suatu file yang isinya sangat besar dapat dilakukan zip menjadi hanya tinggal 20% saja sehingga jika disimpan ke dalam disk, tidak membutuhkan kapasitas terlalu besar. Di sini saya tidak bermaksud untuk melakukan compress waktu yang sehari ada 24 jam dijadikan 4 jam. Bisa anda bayangkan bagaimana jadinya jika dalam sehari hanya ada 4 jam saja, setiap orang akan bekerja secara terburu-buru, kita akan kekurangan tidur, kehidupan kita akan menjadi sangat kacau dan setiap orang menjadi stress/tertekan, karena tidak ada waktu untuk bersantai, mendengarkan musik, menonton sinetron dan hiburan lainnya.

Compress waktu yang saya maksudkan adalah compress waktu yang sesuai dengan kebutuhan kita, dan sisa compress waktu masih cukup untuk aktivitas kita secara normal. Misalnya sehari ada 24 jam dijadikan 22-23 jam, sehingga kita melakukan compress waktu cukup 5% saja.

Pertanyaan saya apakah dengan waktu 23 jam dalam sehari kita harus mengorbankan sesuatu ? Saya rasa tidak ! Kita tidak harus mengerjakan sesuatu secara tergesa-gesa hanya untuk mendapatkan tambahan waktu 1 jam dalam sehari. Hanya saja kita sering ingin mengambil jatah tambahan waktu namun kita tidak melakukan compress waktu, sehingga kita sering kekurang waktu.

Jadi bagaimana cara kita melakukan compress waktu. Kuncinya adalah konsentrasi pada suatu aktivitas yang sedang kita kerjakan, jangan sering melamun. Misalnya kita mengerjakan PR sambil menonton sinetron di televisi, sehingga PR yang seharusnya dikerjakan dalam 30 menit menjadi 2 jam, sering acara sinetron sudah habis, PR kita belum juga selesai dikerjakan. Mata kita tidak dapat diajak untuk bercabang. Acara menonton televisi dapat diganti dengan mendengarkan musik, karena pada saat kita mengerjakan PR, mata dan tangan yang bekerja, sedangkan telinga kita menganggur, maka mendengarkan musik sambil bekerja menurut saya tidak terlalu mengganggu.

Yang saya maksudkan compress waktu adalah melakukan penghematan waktu dengan konsentrasi pada masalah yang sedang kita kerjakan. Jangan membuang-buang waktu yang sia-sia. Masih ingat pribahasa "Time Is Money" (Waktu Adalah Uang). Jadi jika kita membuang-buang waktu sama saja kita membuang-buang uang. Saya tidak akan malu dibilang pemulung, andaikan waktu yang sudah saya buang hari-hari sebelumnya dapat saya pungut kembali.

Minggu, 09 November 2008

Menghayal Waktu Ada 25 Jam Dalam Sehari

Sudah lebih dari sebulan saya tidak menulis di blog ini. Saya sering merasa kurang cukup punya waktu untuk menulis, sehingga tertunda sehari demi sehari. Hari ini saya berusaha menyediakan sedikit waktu luang saya untuk menulis.

Pada saat liburan Lebaran akhir September sampai dengan awal Oktober yang lalu, kami sekeluarga pergi berlibur, setelah pulang berlibur pekerjaan yang harus dikerjakan rasanya tidak pernah habis. Rasanya setiap hari sering terjadi kekurangan waktu. Kadang-kadang saya berpikir alangkah enaknya kalau hari Sabtu dan Minggu ada tambahan jam menjadi 30 jam dalam satu hari penuh, atau paling tidak ada 25 jam, sehingga kelebihan 1 jam dalam sehari cukup untuk saya manfaatkan untuk menulis.

Kita semua diberikan waktu yang sama yakni 24 jam dalam sehari, apakah dia Presiden, Menteri, Pengusaha, Karyawan, Pembantu Rumah Tangga atau dia sebagai Pengangguran sekalipun tetap mendapatkan jatah waktu yang sama. Tidak ada waktu lebih yang diberikan kepada orang yang sibuk, tidak ada juga waktu yang dikurangi bagi seorang yang hidupnya santai.

Waktu yang ada selama 24 jam dalam sehari begitu berharga untuk disia-siakan. Saya mengutip dari seorang penulis, Jhon Wooden yang mengatakan "Belajarlah seolah-olah kamu akan hidup selamanya. Hiduplah seolah-olah kamu akan mati besok." Maknanya adalah bahwa kita harus belajar terus menerus, jangan pikirkan ilmu yang kita dapat akan dipergunakan sampai kapan, karena kita belajar untuk hidup selamanya. Namun untuk mengerjakan sesuatu dalam hidup kita, kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Kalau kita tahu bahwa kita akan mati besok, maka waktu 24 jam itu menjadi begitu singkat, sehingga kita tidak akan menyia-nyiakan waktu walau hanya beberapa detik.

Mungkin para penggemar balap mobil Formula 1 masih ingat akan seri terakhir GP Brasil pada tanggal 3 Nopember 2008 dini hari, dimana Felipe Massa dari Ferrari menjuarai GP Brasil tersebut, akan tetapi gagal menjadi juara dunia. Yang keluar sebagai juara dunia adalah Lewis Hamilton dari Mclaren yang finis pada posisi ke-5 pada GP Brasil, dengan hanya selisih satu point lebih banyak dari Felipe Massa. Pada saat Felipe Massa mencapai garis finis, Lewis Hamilton masih ada pada posisi ke-6, jika dia finis pada posisi ke-6, maka yang menjadi juara dunia adalah Felipe Massa, karena juara seri lebih banyak dari Lewis Hamilton. Beberapa detik menjelang garis finis, Lewis Hamilton berhasil memotong Timo Glock sehingga finis pada posisi ke-5 sekaligus tampil sebagai juara dunia Formula 1 termuda mengukir sejarah baru balap mobil Formula 1. Itulah detik-detik yang sangat berharga buat Lewis Hamilton.

Sebenarnya dalam kehidupan kita, setiap detik juga sama berharga, jika kita memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan menghabiskan waktu secara sia-sia karena waktu bagian paling penting dari kehidupan. Orang yang berani menyia-nyiakan waktu sekalipun hanya satu jam berarti dia belum bisa menemukan nilai kehidupan.

Waktu yang kita katakan berharga bukanlah harus dipergunakan untuk bekerja. Waktu yang kita pergunakan untuk bersantai, membaca buku bahkan untuk tidur juga sama berharganya dengan waktu yang kita gunakan untuk bekerja. Hanya saja bagaimana kita harus mengalokasikan porsi waktu untuk masing-masing aktivitas kita secara seimbang itulah yang terpenting. Manfaatkanlah waktu 24 jam sehari dengan sebaik-baiknya, jangan menghayal waktu akan ditambah menjadi 25 jam sehari seperti yang pernah ada dalam pikiran saya.

Kamis, 25 September 2008

Dike-i Ati Mrogoh Rampelo

Kemarin sore, seperti biasa saya pulang kantor bersama rekan sejawat saya Sdr. Redemptus. Dalam perjalanan pulang kami biasanya membahas berbagai hal. Salah satu topik pembicaraan kami kemarin adalah mengenai sifat dan kebiasaan manusia yang kadang kala suka lupa diri.

Manusia umumnya memang sering tidak pernah puas bahkan kadang-kadang lupa untuk bersyukur. Entah cerita awalnya seperti apa, sampai saya menyelipkan kata ungkapan "Dikasih Hati Minta Jantung". Saat itu juga rekan saya menterjemahkan dalam ungkapan yang sama dalam bahasa Jawa "Dike-i Ati Mrogoh Rampelo" (Dikasih Hati Minta Ampela). Saya tidak tahu mana yang lebih tepat dari kedua ungkapan itu yang sebenarnya mempunyai makna yang sama, yakni "NGELUNJAK". Mungkin di Jawa lebih banyak melihat ayam/unggas, sehingga "jantung" diganti menjadi "ampela". Kalau perumpamaan itu ada pada manusia atau sapi mungkin tidak cocok, karena manusia maupun sapi tidak mempunyai ampela, yang ada lambung.

Akan tetapi di sini saya tidak menjadikan "jantung" maupun "ampela" sebagai inspirasi dalam tulisan saya ini. Saya justru hanya ingin mengungkapan makna dari ungkapan di atas, yakni janganlah kita terlalu memaksakan kehendak atau ngelunjak.

Dikasih sinar matahari panas, kita mengomel, "gila hari ini panas banget". Sebenarnya kita mengomelin siapa ? Kita tidak sadar bahwa sebenarnya kita telah menyalahi Tuhan yang menciptakan matahari buat kita. Dikasih hujan kita juga mengomel, "gila hujan terus bisa banjir lagi nich". Itulah sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dan bersyukur. Sinar matahari panas mungkin adalah berkah yang diberikan oleh Tuhan kepada ibu-ibu yang berdoa minta sinar matahari agar pakaiannya cepat kering, karena kehabisan pakaian untuk dipakai keesokan harinya, atau doa yang dipanjatkan oleh para jugaran ikan asin di daerah Cirebon dan Bagan Siapi-api. Hujan yang turun mungkin adalah doa yang dikabulkan oleh Tuhan kepada para pengojek payung atau petani yang sawah dan ladangnya dilanda kekeringan. Tuhan menciptakan musim panas dan musim hujan supaya kita bisa membuat perencanaan. Andaikan setiap hari musim pancaroba, mungkin kita akan sulit membuat perencanaan dan akan ada banyak orang yang jatuh sakit.

Dibalik bencana dan musibah selalu ada berkah di sisi lain. Pasien-pasien yang berobat di Rumah Sakit merupakan bagian yang tertimpa musibah, namun memberikan berkah bagi dokter, jururawat, apoteker dan segenap pekerja di Rumah Sakit. Jadi dokter yang berdoa supaya mendapatkan pasien yang banyak berarti juga berdoa untuk mendatangkan musibah buat orang lain. Apakah dokter tidak boleh berdoa ? Dokter yang baik juga berdoa bagi kesembuhan pasien setelah kita berobat kepadanya. Kita biasanya juga membaca tulisan di Apotik "Semoga Cepat Sembuh", bukankah berarti apoteker juga berdoa untuk kesembuhan pasien setelah kita menebus resep kepadanya ?

Dalam kehidupan kita sering kita mendapatkan sesuatu, justru mengharapkan yang lain atau yang lebih dari yang sudah kita dapatkan. Memang bagus untuk kita tidak cepat merasa puas, supaya kita dapat menggapai yang lebih baik lagi. Namun kita juga jangan lupa untuk bersyukur apa yang sudah kita dapatkan saat ini. Kalau orang kasih kita hati (berbaik hati) kita juga harus berbalas memberikan kasih (membalas budi). Ingat bahwa hati masih lebih baik daripada ampela, kata orang hati dapat menambah darah, sedangkan ampela malah menambah kolestrol dan asam urat, jadi Ojo Dike-i Ati Mrogoh Rampelo !!!