Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan di Radio PasFM dalam acara business wisdoms yang dibawakan oleh Bpk Tanadi Santoso. Ada hal yang sangat menarik yang dapat saya kutip untuk dijadikan tulisan. Beliau memang seorang motivator favorit saya, tulisan-tulisannya mengenai business wisdoms selalu saya ikuti dan saya baca.
Beliau mengajukan suatu pertanyaan yang saya jawab dalam hati, ternyata jawaban saya salah besar. Pertanyaannya adalah "Mana yang lebih banyak di dunia ini, orang yang mati karena dibunuh atau mati karena bunuh diri ?" Sebelum anda membaca tulisan saya selanjutnya, coba anda menebak jawaban atas pertanyaan tersebut ! Apa jawaban anda ? Mari kita cocokan dengan jawaban Bpk Tanadi Santoso yang menurutnya berdasarkan data.
Ternyata di dunia ini lebih banyak orang yang mati karena bunuh diri dari pada mati karena dibunuh. Kalau jawaban anda benar, nah sekarang pertanyaan selanjutnya berapa perbandingannya ? Anda jangan kaget mendengar jawabannya ! Menurut beliau bahwa perbandingannya adalah 20 : 1, maksudnya di dunia ini ada 20 kali lipat lebih banyak orang yang mati karena bunuh diri dari pada yang mati karena dibunuh. Sangat fantastis bukan ? Namun memang demikianlah kenyataannya kalau berdasarkan data adakalanya memang berbeda jauh dengan apa yang kita kira sebelumnya.
Orang yang mati karena bunuh diri umumnya jarang diberitakan, adakalanya memang sengaja ditutup-tutupi oleh pihak keluarga. Akan tetapi orang yang mati karena dibunuh biasanya banyak diberitakan di media cetak, televisi, radio, internet dan lain-lain. Sehingga kita lebih sering mendengar orang mati karena dibunuh dibandingkan dengan orang mati karena bunuh diri.
Pertanyaan yang hampir serupa adalah "Ada berapa persen kecelakaan pesawat terbang di dunia ini ?" Mungkin anda juga bisa mencoba menebak jawabannya ! Pertanyaan ini saya ajukan kepada teman saya. Jawaban dari teman saya secara spontan dan cepat, katanya 30%, bagaimana menurut anda ? Maklum, pantas saja istrinya tidak memperbolehkan teman saya ini untuk naik pesawat terbang.
Di dunia ini hampir setiap jam bahkan dalam hitungan menit saja ada banyak pesawat terbang yang landing dengan selamat, akan tetapi tidak diberitakan. Namun jika terjadi kecelakaan pesawat terbang atau ada pesawat yang jatuh di manapun di dunia ini pasti mendapat perhatian dan diliput oleh media di mana-mana. Jadi kembali ke pertanyaan ada berapa persen kecelakaan pesawat terbang di dunia ini ? Tentunya jawaban yang benar adalah 0,000 sekian persen dengan kata lain satu di antara ribuan pesawat terbang yang mendarat dengan selamat setiap hari, itupun tidak setiap hari terjadi kecelakaan pesawat. Andaikata pun setiap hari terjadi kecelakaan pesawat terbang di dunia ini (Tuhan, kami mohon jangan sampai itu terjadi), tetap saja jawaban teman saya yang bilang 30% adalah salah besar. Kalau sampai kecelakaan pesawat terbang di dunia ini sebesar 30%, jangankan teman saya yang tidak diperbolehkan istrinya naik pesawat terbang, kita semua mungkin juga tidak berani naik pesawat terbang, karena harus mempertaruhkan 30% nyawa kita.
Nah di dalam dunia bisnis, andaikata kita hanya berdasarkan pembicaraan orang kebanyakan sehingga kita mengambil suatu kesimpulan dengan asumsi-asumsi berdasarkan yang kita dengar saja tanpa kita melakukan pengkajian dan analisa mendalam untuk mendapatkan data yang lebih akurat, adakalanya kesimpulan yang kita buat jauh dari fakta sesungguhnya. Kesimpulan yang salah akan mempengaruhi keputusan yang salah juga.
Untuk mengambil suatu keputusan penting dalam kehidupan kita sehari-hari, kita memang perlu banyak mendengar, mendapatkan masukan-masukan dari orang lain. Namun mendengar saja tidak cukup, selain mendengar kita perlu menganalisa apakah semua yang kita dengar sudah sesuai dengan fakta sesungguhnya dan yang terbaik untuk pengambilan keputusan kita saat ini serta mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang kita harapkan di masa yang akan datang.
Kamis, 24 Maret 2011
Kamis, 27 Agustus 2009
Mendambakan Kendaraan Umum Yang Aman dan Nyaman
Sudah satu minggu ini saya berangkat ke kantor dan pulang dengan kendaraan umum (bus khusus dari shelter bus Lippo Village, Karawaci), karena selama bulan puasa jalanan justru semakin macet terutama di sore hari menjelang berbuka puasa, jadi rasanya akan lebih santai kalau naik bus.
Ternyata saya cukup bisa menikmati perjalanan pergi pulang (bukan pulang pergi, karena bagaimana bisa pulang dulu baru pergi) dengan bus umum tetapi agak khusus ini. Tempat pemberhentian bus ini tidak boleh di sembarangan tempat dan tidak boleh orang naik turun di tengah jalan. Tempat pemberhentiannya sudah ditentukan di titik-titik tertentu, misalnya bus yang berangkat dari Lippo Village jam 06.00 pagi berhentinya di Menara Mulia daerah Semanggi, lalu ke Citra Graha, di Jl. Gatot Subroto. Ada lagi bus yang berangkat jam 06.05 pagi, berhentinya di Komdak, Jl. Jend. Sudirman lalu putar arah ke gedung FX di dekat pintu satu Gelora Bung Karno, Senayan. Memang dengan begitu bus ini menjadi lebih exclusive dibandingkan dengan bus umum lainnya, terutama dari segi keamanan dan kenyamanan para penumpang.
Yang menjadi kendala adalah tempat pemberhentian bus agak sedikit jauh dari kantor saya di Menara Batavia, sehingga saya harus berbalik arah dengan menyambung kendaraan umum lagi. Kalau pada pagi hari tentu tidak menjadi masalah, turun dari bus di gedung FX langsung bisa naik taxi yang banyak lalu lalang di sekitar situ dan situasi jalanan pun cukup lancar. Biasanya naik taxi kira-kira habis antara Rp. 10.000 - Rp. 15.000 dari gedung FX ke gedung Menara Batavia. Masuk taxi, pintu ditutup, argo meter langsung ditekan sebesar Rp. 5.000 ada juga yang Rp. 6.000, jalan kira-kira 1 km, argo meter mulai loncat-loncat kelipatan Rp. 250 kira-kira setiap 6 detik, kalau yang argo pertama Rp. 6.000, lancatannya kelipatan Rp. 300.
Pada sore hari, jalanan macet tidak ketulungan atau bisa dibilang macet minta ampun, cuma biasanya kita minta ampun kan kepada Tuhan, lahhh... memangnya kemacetan jalanan disebabkan oleh Tuhan, itu kan ulah manusia juga, semua orang bawa mobil, motor, semua orang ingin pulang lebih cepat untuk berbuka puasa bersama keluarga. Selama bulan puasa biasanya kantor-kantor masuk lebih pagi dan pulang lebih cepat antara 30 menit sampai 1 jam. Herannya yang tidak puasa pun ingin pulang cepat-cepat juga (ya termasuk saya juga sih). Tensi setiap orang pun mulai berubah, senggol-senggolan antara kendaraan kadang tidak terhindarkan, malah tidak jarang orang mulai mengeluarkan kata-kata makian satu sama lainnya, wah kalau begitu puasanya batal deh !!!
Karena macet tidak ketulungan di sore hari, maka saya terpaksa naik ojek motor dari kantor ke gedung Citra Graha bayar Rp. 20.000, padahal jaraknya paling hanya sekitar 3 km, tidak apa-apa deh hitung-hitung berbagi rezeki kepada tukang ojek motor. Cuma yang membuat sport jantung selip-selipan motor di antara bus-bus bahkan truk, sehingga kaki dan tangan harus benar-benar rapat dengan badan. Kadang saya takut juga tergencet di antara kendaraan yang begitu padat.
Keadaan ini membuat inspirasi saya untuk menulis, bagaimana menciptakan kendaraan umum yang benar-benar aman dan nyaman kepada para penumpang, sehingga orang-orang berangkat ke kantor tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi. Dengan pertambahan ruas jalan yang tidak seimbang dengan pertambahan jumlah kendaraan pribadi, jika masalah ini dibiarkan terus menerus, maka memang bukanlah mustahil suatu saat nanti hanya beberapa langkah orang keluar dari rumah jalanan sudah penuh dengan kendaraan, motor, mobil, bus dan truk. Jadi kita harus lewat mana ?
Saat ini yang dipikirkan oleh pemerintah daerah maupun oleh pemerintah pusat selalu mencari cara untuk menambah ruas jalan misalnya menambah under pass dan fly over atau menambah lajur jalan tol, namun semua memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam melakukan pengembangan. Dalam proses pembuatan under pass dan fly over saja menyebabkan kemacetan yang luar biasa. Penambahan lajur jalan tol juga tidak dapat dikembangkan terus menerus, suatu saat akan habis juga lahan yang tersedia. Selama pemerintah masih berpikir bagaimana caranya menambah ruas jalan akan selalu kalah dengan orang yang berpikir bagaimana memiliki tambahan kendaraan baru.
Kenapa pemerintah masih tidak berpikir dengan cara yang lain. Selama seminggu saya naik kendaraan umum yang menurut saya cukup aman dan nyaman. Saya merasakan seperti sedang berada di luar negeri. Maklum memang saya jarang naik bus setelah punya kendaraan pribadi, jadi naik bus, taxi dan MRT kalau sedang di luar negeri, rasanya nyaman-nyaman saja. Jadi saya berpikir kalau seandainya semua bus umum di Jakarta dibuat senyaman di luar negeri atau setidaknya senyaman bus dari shelter-shelter perumahan seperti Lippo Village, mungkin banyak yang akan parkir mobil pribadinya di rumah. Mobil pribadi cukup satu atau dua saja untuk bepergian dengan keluarga pada akhir pekan atau pada hari libur.
Akan tetapi tidak cukup sampai di situ saja, tidak cukup hanya perbaikan kwalitas dan kwantitas bus-bus umum. Langkah berikutnya adalah membatasi kendaraan pribadi untuk masuk ke jalan tol dan jalan-jalan protokol pada hari-hari kerja. Caranya pada hari-hari kerja tarif jalan tol untuk kendaraan pribadi dinaikkan misalnya Rp. 5.000/km/kendaraan, sedangkan bus bila perlu digratiskan. Pada akhir pekan (Sabtu, Minggu) dan hari-hari libur tarif tol dinormalkan lagi seperti tarif yang berlaku saat ini. Untuk kendaraan angkutan barang seperti truk diberlakukan tarif tersendiri, supaya tidak menghambat perputaran barang. Jalan-jalan protokol juga dibuatkan pintu pembayaran seperti jalan tol dengan tarif yang sama seperti jalan tol. Motor tidak diperbolehkan masuk ke jalan-jalan protokol, apalagi jalan tol yang memang dari dulu juga tidak boleh masuk. Armada bus diperbanyak, keamanan dan kenyamanan dibuat seperti bus dari shelter-shelter perumahan. Semua penumpang mendapatkan tempat duduk, tidak boleh ada yang berdiri. Dengan demikian akan terjadi seleksi alam, bus-bus yang kurang nyaman akan ditinggalkan oleh penumpangnya, sehingga semua berlomba-lomba untuk membuat bus-bus semakin nyaman dan aman, bila perlu di setiap bus ada seorang penjaga seperti Satpam, jadi jangan coba-coba untuk mencopet di bus umum.
Tulisan saya ini hanya sebagai suatu ide awal saja, tentunya teknis pelaksanaannya mungkin masih banyak pakar-pakar di Departemen Perhubungan yang jauh lebih tahu dari saya. Kalau saya terlalu detail, selain orang juga bosan membacanya, saya juga takut dipanggil ke Cikeas untuk dimasukkan dalam daftar yang akan diseleksi oleh Bapak SBY. Bisa kacau urusannya, mau saya tolak nanti dikira sombong, mau diterima nanti tidak enak dengan partai-partai koalisi pendukung SBY-Boediono, kan jadi buah simalakama.
Ternyata saya cukup bisa menikmati perjalanan pergi pulang (bukan pulang pergi, karena bagaimana bisa pulang dulu baru pergi) dengan bus umum tetapi agak khusus ini. Tempat pemberhentian bus ini tidak boleh di sembarangan tempat dan tidak boleh orang naik turun di tengah jalan. Tempat pemberhentiannya sudah ditentukan di titik-titik tertentu, misalnya bus yang berangkat dari Lippo Village jam 06.00 pagi berhentinya di Menara Mulia daerah Semanggi, lalu ke Citra Graha, di Jl. Gatot Subroto. Ada lagi bus yang berangkat jam 06.05 pagi, berhentinya di Komdak, Jl. Jend. Sudirman lalu putar arah ke gedung FX di dekat pintu satu Gelora Bung Karno, Senayan. Memang dengan begitu bus ini menjadi lebih exclusive dibandingkan dengan bus umum lainnya, terutama dari segi keamanan dan kenyamanan para penumpang.
Yang menjadi kendala adalah tempat pemberhentian bus agak sedikit jauh dari kantor saya di Menara Batavia, sehingga saya harus berbalik arah dengan menyambung kendaraan umum lagi. Kalau pada pagi hari tentu tidak menjadi masalah, turun dari bus di gedung FX langsung bisa naik taxi yang banyak lalu lalang di sekitar situ dan situasi jalanan pun cukup lancar. Biasanya naik taxi kira-kira habis antara Rp. 10.000 - Rp. 15.000 dari gedung FX ke gedung Menara Batavia. Masuk taxi, pintu ditutup, argo meter langsung ditekan sebesar Rp. 5.000 ada juga yang Rp. 6.000, jalan kira-kira 1 km, argo meter mulai loncat-loncat kelipatan Rp. 250 kira-kira setiap 6 detik, kalau yang argo pertama Rp. 6.000, lancatannya kelipatan Rp. 300.
Pada sore hari, jalanan macet tidak ketulungan atau bisa dibilang macet minta ampun, cuma biasanya kita minta ampun kan kepada Tuhan, lahhh... memangnya kemacetan jalanan disebabkan oleh Tuhan, itu kan ulah manusia juga, semua orang bawa mobil, motor, semua orang ingin pulang lebih cepat untuk berbuka puasa bersama keluarga. Selama bulan puasa biasanya kantor-kantor masuk lebih pagi dan pulang lebih cepat antara 30 menit sampai 1 jam. Herannya yang tidak puasa pun ingin pulang cepat-cepat juga (ya termasuk saya juga sih). Tensi setiap orang pun mulai berubah, senggol-senggolan antara kendaraan kadang tidak terhindarkan, malah tidak jarang orang mulai mengeluarkan kata-kata makian satu sama lainnya, wah kalau begitu puasanya batal deh !!!
Karena macet tidak ketulungan di sore hari, maka saya terpaksa naik ojek motor dari kantor ke gedung Citra Graha bayar Rp. 20.000, padahal jaraknya paling hanya sekitar 3 km, tidak apa-apa deh hitung-hitung berbagi rezeki kepada tukang ojek motor. Cuma yang membuat sport jantung selip-selipan motor di antara bus-bus bahkan truk, sehingga kaki dan tangan harus benar-benar rapat dengan badan. Kadang saya takut juga tergencet di antara kendaraan yang begitu padat.
Keadaan ini membuat inspirasi saya untuk menulis, bagaimana menciptakan kendaraan umum yang benar-benar aman dan nyaman kepada para penumpang, sehingga orang-orang berangkat ke kantor tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi. Dengan pertambahan ruas jalan yang tidak seimbang dengan pertambahan jumlah kendaraan pribadi, jika masalah ini dibiarkan terus menerus, maka memang bukanlah mustahil suatu saat nanti hanya beberapa langkah orang keluar dari rumah jalanan sudah penuh dengan kendaraan, motor, mobil, bus dan truk. Jadi kita harus lewat mana ?
Saat ini yang dipikirkan oleh pemerintah daerah maupun oleh pemerintah pusat selalu mencari cara untuk menambah ruas jalan misalnya menambah under pass dan fly over atau menambah lajur jalan tol, namun semua memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam melakukan pengembangan. Dalam proses pembuatan under pass dan fly over saja menyebabkan kemacetan yang luar biasa. Penambahan lajur jalan tol juga tidak dapat dikembangkan terus menerus, suatu saat akan habis juga lahan yang tersedia. Selama pemerintah masih berpikir bagaimana caranya menambah ruas jalan akan selalu kalah dengan orang yang berpikir bagaimana memiliki tambahan kendaraan baru.
Kenapa pemerintah masih tidak berpikir dengan cara yang lain. Selama seminggu saya naik kendaraan umum yang menurut saya cukup aman dan nyaman. Saya merasakan seperti sedang berada di luar negeri. Maklum memang saya jarang naik bus setelah punya kendaraan pribadi, jadi naik bus, taxi dan MRT kalau sedang di luar negeri, rasanya nyaman-nyaman saja. Jadi saya berpikir kalau seandainya semua bus umum di Jakarta dibuat senyaman di luar negeri atau setidaknya senyaman bus dari shelter-shelter perumahan seperti Lippo Village, mungkin banyak yang akan parkir mobil pribadinya di rumah. Mobil pribadi cukup satu atau dua saja untuk bepergian dengan keluarga pada akhir pekan atau pada hari libur.
Akan tetapi tidak cukup sampai di situ saja, tidak cukup hanya perbaikan kwalitas dan kwantitas bus-bus umum. Langkah berikutnya adalah membatasi kendaraan pribadi untuk masuk ke jalan tol dan jalan-jalan protokol pada hari-hari kerja. Caranya pada hari-hari kerja tarif jalan tol untuk kendaraan pribadi dinaikkan misalnya Rp. 5.000/km/kendaraan, sedangkan bus bila perlu digratiskan. Pada akhir pekan (Sabtu, Minggu) dan hari-hari libur tarif tol dinormalkan lagi seperti tarif yang berlaku saat ini. Untuk kendaraan angkutan barang seperti truk diberlakukan tarif tersendiri, supaya tidak menghambat perputaran barang. Jalan-jalan protokol juga dibuatkan pintu pembayaran seperti jalan tol dengan tarif yang sama seperti jalan tol. Motor tidak diperbolehkan masuk ke jalan-jalan protokol, apalagi jalan tol yang memang dari dulu juga tidak boleh masuk. Armada bus diperbanyak, keamanan dan kenyamanan dibuat seperti bus dari shelter-shelter perumahan. Semua penumpang mendapatkan tempat duduk, tidak boleh ada yang berdiri. Dengan demikian akan terjadi seleksi alam, bus-bus yang kurang nyaman akan ditinggalkan oleh penumpangnya, sehingga semua berlomba-lomba untuk membuat bus-bus semakin nyaman dan aman, bila perlu di setiap bus ada seorang penjaga seperti Satpam, jadi jangan coba-coba untuk mencopet di bus umum.
Tulisan saya ini hanya sebagai suatu ide awal saja, tentunya teknis pelaksanaannya mungkin masih banyak pakar-pakar di Departemen Perhubungan yang jauh lebih tahu dari saya. Kalau saya terlalu detail, selain orang juga bosan membacanya, saya juga takut dipanggil ke Cikeas untuk dimasukkan dalam daftar yang akan diseleksi oleh Bapak SBY. Bisa kacau urusannya, mau saya tolak nanti dikira sombong, mau diterima nanti tidak enak dengan partai-partai koalisi pendukung SBY-Boediono, kan jadi buah simalakama.
Senin, 10 Agustus 2009
Rumah Masa Depan (Bagian II)
Pada tanggal 25 Juli 2009 yang lalu, Tante kami (Siko) telah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sesuai dengan tulisan saya sebelumnya bahwa kami sudah mempersiapkan "Rumah Masa Depan" untuk Siko, yakni di Sandiego Hills Memorial Park, Kerawang. Tepatnya di kapling creation Hammingbird Blok J27 No. 5.
Pada tanggal 28 Juli 2009, yakni hari pemakaman Tante kami (Siko) di Sandiego Hills Memorial Park, yang dihadiri oleh saudara dan sanak keluarga dari Tan (Tan Family) yang berangkat dari Rumah Duka Siloam dengan iring-iringan 7 buah mobil.
Setelah pemakaman kami makan bersama di aula kantor pemasaran dan dilanjutkan dengan foto-foto di taman dengan pemandangan yang sangat indah, danau, kolam renang, rerumputan hijau seperti lapangan golf yang notabene adalah kuburan yang dibuat dengan kesan yang tidak menyeramkan seperti kuburan-kuburan tradisional pada umumnya, gundukan tanah yang tinggi, batu nisan yang besar-besar, ada pohon-pohon kamboja yang kadang membuat bulu kuduk berdiri.
Pada tanggal 31 Juli 2009 tepatnya hari ketujuh meninggalnya Tante kami (Siko), kami meninjau kembali "Rumah Masa Depan" Siko. Ternyata taburan-taburan bunga pada waktu pemakaman sudah berganti dengan tanaman rumput golf.
Tante kami (Siko) pada masa hidup tidak pernah sekalipun menyinggung tentang "Rumah Masa Depan" untuk dirinya, karena memang semangat hidup beliau sangat tinggi, dia berjuang melawan penyakitnya sekitar 9 bulan setelah divonis dokter mengidap penyakit tumor/kanker pankreas. Beliau hampir tidak mau terima kenyataan bahwa penyakitnya sudah tidak bisa disembuhkan lagi, kecuali melalui operasi, namun mengingat usianya yang sudah tua akan sangat riskan untuk melakukan tindakan operasi selain tentu masalah biaya yang sangat besar pula. Beliau berharap ada mujizat dari Yang Maha Kuasa sambil minum Ginseng selama kurang lebih 6 bulan. Hingga sekitar 3 bulan sebelum meninggal beliau masih aktif menghadiri Gereja pada hari Minggu bersama dengan keluarga Om dan Tante kami yang lain, yang juga adalah adiknya.
Menurut penganut Kristen yang kami tahu bahwa ada istilah "tanah kembali ke tanah", selain itu Tante kami (Siko) agak kurang menyetujui orang yang sudah meninggal dilakukan kreamasi (dibakar), sehingga kami menyiapkan "Rumah Masa Depan" yang tanpa melalui pesanan dari beliau yang menurut kami sudah sangat layak tempatnya.
Ada juga Om dan Tante kami yang tinggal di daerah Batu Ceper menganggap setelah meninggal apapun bentuk bakti dari anak sudah tidak berguna, yang penting adalah bakti anak semasa hidup. Jadi agar tidak menyusahkan anak, mereka berpesan kepada anak-anaknya kalau nanti mereka sudah meninggal agar dikreamasi saja dan abunya dibuang ke tengah lautan.
Memang kalau orang dulu-dulu bisa dianggap pamali, amit-amit jabang bayi (ho lai phai khi / tai kak li si), beli kuburan untuk mempersiapkan kematian, akan tetapi sekarang sudah biasa. Namun menurut saya mempersiapkan "Rumah Masa Depan" oleh anak kepada orang tuanya yang sudah tua mungkin tidak ada salahnya, akan tetapi mempersiapkan "Rumah Masa Depan" oleh kita sendiri yang diperuntukan kita sendiri nantinya dengan memilih lokasinya, view-nya mungkin rasanya tidak terlalu penting.
Atasan saya pernah mengajak saya membeli "Rumah Masa Depan" di Sandiego Hills juga, saya katakan belumlah Bu, belum saya pikirkan. Apa yang dikatakan atasan saya waktu itu saya masih ingat, "tapi suatu hari kamu akan mati juga kan ?" Bahkan atasan saya membeli sampai 4 kapling untuk dirinya. Katanya kalau dia tidur tangannya bisa bebas bergerak, kalau cuma 1 m x 2,6 m bagaimana bisa bebas menggerakkan tangan. Beberapa rekan kantor saya juga ikut bersama atasan saya membeli di sana, katanya supaya bisa tetap berdekatan (bertetangga). Jadi masih bisa ketemu lagi setelah masing-masing sudah meninggal. Saya sedikit geli juga mendengarkan alasannya. Kan jasad orang itu dimasukkan dalam peti kayu yang sudah ditutup rapat dengan skrup/paku. Peti kayu dimasukkan lagi ke lubang yang terdapat sebuah peti batu, setelah itu peti batu itu ditutup, baru kemudian ditimbun tanah. Kalau begitu, tetap saja tidak bisa bebas bergerak, bahkan tidak ada udara, atau mungkin orang yang sudah meninggal tidak lagi butuh udara, karena sudah tidak lagi bernafas. Akan tetapi kalau orang yang sudah meninggal dan sudah dikubur masih bebas bergerak ke sana ke mari, untuk apa juga tidur di dalam peti kayu, kan bisa tidur di samping danau atau di mana saja. Kalau kita beranalogi orang yang sudah meninggal dan sudah dikubur di dalam tanah masih seperti orang dalam kehidupan dunia nyata tentunya sudah tidak nyambung lagi.
Ada juga yang bilang, orang yang menjadi suami istri di kehidupan sekarang, setelah masing-masing sudah meninggal sudah tidak saling kenal lagi di alam sana. Jadi untuk apa juga "Rumah Masa Depan" harus saling berdekatan. Ada lelucon dari istri saya, katanya kalau nanti kita masing-masing sudah meninggal, kan kita sudah tidak saling kenal. Dan ceritanya istri saya sudah kawin dengan orang kaya dan kebetulan saya yang menjadi supirnya. Dia melihat saya sepertinya sudah pernah kenal, lalu dia selingkuhlah dengan supirnya, yakni saya. Walaupun hanya sekedar lelucon, tetapi saya senang juga mendengarnya. Artinya dia tidak kecewa bersuamikan saya, bahkan kalau sampai tidak bersama saya di kehidupan yang akan datang, walaupun dia sudah menjadi orang kaya sedangkan saya hanya seorang supir, dia masih memikirkan saya dengan jalan menempuh jalur selingkuh agar kita tetap bisa bersama.
Pada tanggal 28 Juli 2009, yakni hari pemakaman Tante kami (Siko) di Sandiego Hills Memorial Park, yang dihadiri oleh saudara dan sanak keluarga dari Tan (Tan Family) yang berangkat dari Rumah Duka Siloam dengan iring-iringan 7 buah mobil.
Setelah pemakaman kami makan bersama di aula kantor pemasaran dan dilanjutkan dengan foto-foto di taman dengan pemandangan yang sangat indah, danau, kolam renang, rerumputan hijau seperti lapangan golf yang notabene adalah kuburan yang dibuat dengan kesan yang tidak menyeramkan seperti kuburan-kuburan tradisional pada umumnya, gundukan tanah yang tinggi, batu nisan yang besar-besar, ada pohon-pohon kamboja yang kadang membuat bulu kuduk berdiri.
Pada tanggal 31 Juli 2009 tepatnya hari ketujuh meninggalnya Tante kami (Siko), kami meninjau kembali "Rumah Masa Depan" Siko. Ternyata taburan-taburan bunga pada waktu pemakaman sudah berganti dengan tanaman rumput golf.
Tante kami (Siko) pada masa hidup tidak pernah sekalipun menyinggung tentang "Rumah Masa Depan" untuk dirinya, karena memang semangat hidup beliau sangat tinggi, dia berjuang melawan penyakitnya sekitar 9 bulan setelah divonis dokter mengidap penyakit tumor/kanker pankreas. Beliau hampir tidak mau terima kenyataan bahwa penyakitnya sudah tidak bisa disembuhkan lagi, kecuali melalui operasi, namun mengingat usianya yang sudah tua akan sangat riskan untuk melakukan tindakan operasi selain tentu masalah biaya yang sangat besar pula. Beliau berharap ada mujizat dari Yang Maha Kuasa sambil minum Ginseng selama kurang lebih 6 bulan. Hingga sekitar 3 bulan sebelum meninggal beliau masih aktif menghadiri Gereja pada hari Minggu bersama dengan keluarga Om dan Tante kami yang lain, yang juga adalah adiknya.
Menurut penganut Kristen yang kami tahu bahwa ada istilah "tanah kembali ke tanah", selain itu Tante kami (Siko) agak kurang menyetujui orang yang sudah meninggal dilakukan kreamasi (dibakar), sehingga kami menyiapkan "Rumah Masa Depan" yang tanpa melalui pesanan dari beliau yang menurut kami sudah sangat layak tempatnya.
Ada juga Om dan Tante kami yang tinggal di daerah Batu Ceper menganggap setelah meninggal apapun bentuk bakti dari anak sudah tidak berguna, yang penting adalah bakti anak semasa hidup. Jadi agar tidak menyusahkan anak, mereka berpesan kepada anak-anaknya kalau nanti mereka sudah meninggal agar dikreamasi saja dan abunya dibuang ke tengah lautan.
Memang kalau orang dulu-dulu bisa dianggap pamali, amit-amit jabang bayi (ho lai phai khi / tai kak li si), beli kuburan untuk mempersiapkan kematian, akan tetapi sekarang sudah biasa. Namun menurut saya mempersiapkan "Rumah Masa Depan" oleh anak kepada orang tuanya yang sudah tua mungkin tidak ada salahnya, akan tetapi mempersiapkan "Rumah Masa Depan" oleh kita sendiri yang diperuntukan kita sendiri nantinya dengan memilih lokasinya, view-nya mungkin rasanya tidak terlalu penting.
Atasan saya pernah mengajak saya membeli "Rumah Masa Depan" di Sandiego Hills juga, saya katakan belumlah Bu, belum saya pikirkan. Apa yang dikatakan atasan saya waktu itu saya masih ingat, "tapi suatu hari kamu akan mati juga kan ?" Bahkan atasan saya membeli sampai 4 kapling untuk dirinya. Katanya kalau dia tidur tangannya bisa bebas bergerak, kalau cuma 1 m x 2,6 m bagaimana bisa bebas menggerakkan tangan. Beberapa rekan kantor saya juga ikut bersama atasan saya membeli di sana, katanya supaya bisa tetap berdekatan (bertetangga). Jadi masih bisa ketemu lagi setelah masing-masing sudah meninggal. Saya sedikit geli juga mendengarkan alasannya. Kan jasad orang itu dimasukkan dalam peti kayu yang sudah ditutup rapat dengan skrup/paku. Peti kayu dimasukkan lagi ke lubang yang terdapat sebuah peti batu, setelah itu peti batu itu ditutup, baru kemudian ditimbun tanah. Kalau begitu, tetap saja tidak bisa bebas bergerak, bahkan tidak ada udara, atau mungkin orang yang sudah meninggal tidak lagi butuh udara, karena sudah tidak lagi bernafas. Akan tetapi kalau orang yang sudah meninggal dan sudah dikubur masih bebas bergerak ke sana ke mari, untuk apa juga tidur di dalam peti kayu, kan bisa tidur di samping danau atau di mana saja. Kalau kita beranalogi orang yang sudah meninggal dan sudah dikubur di dalam tanah masih seperti orang dalam kehidupan dunia nyata tentunya sudah tidak nyambung lagi.
Ada juga yang bilang, orang yang menjadi suami istri di kehidupan sekarang, setelah masing-masing sudah meninggal sudah tidak saling kenal lagi di alam sana. Jadi untuk apa juga "Rumah Masa Depan" harus saling berdekatan. Ada lelucon dari istri saya, katanya kalau nanti kita masing-masing sudah meninggal, kan kita sudah tidak saling kenal. Dan ceritanya istri saya sudah kawin dengan orang kaya dan kebetulan saya yang menjadi supirnya. Dia melihat saya sepertinya sudah pernah kenal, lalu dia selingkuhlah dengan supirnya, yakni saya. Walaupun hanya sekedar lelucon, tetapi saya senang juga mendengarnya. Artinya dia tidak kecewa bersuamikan saya, bahkan kalau sampai tidak bersama saya di kehidupan yang akan datang, walaupun dia sudah menjadi orang kaya sedangkan saya hanya seorang supir, dia masih memikirkan saya dengan jalan menempuh jalur selingkuh agar kita tetap bisa bersama.
Rumah Masa Depan (Bagian I)
Hari Minggu tanggal 22 Pebruari 2009 yang lalu, saya bersama dengan istri, Om dan Tante (Atio & Seko) ke Kerawang. Tujuan kami adalah untuk melihat-lihat kapling tanah untuk "Rumah Masa Depan" buat Tante kami yang lain (Siko) yang saat itu sedang sakit.
Kami masuk ke kawasan Sandiego Hills Memorial Park sebagai kawasan yang masih relatif agak baru. Menurut salah seorang marketing executive-nya, bahwa saat ini baru dikembangkan seluas 50 hektar dari rencana keseluruhan 500 hektar. Kawasan yang tertata sangat rapi jauh dari kesan kuburan. Orang yang tidak tahu mungkin dikira lapangan golf yang lengkap dengan country club-nya. Ada danau, ada kolam renang, gedung pertemuan, restoran, toko bunga dan lain-lain.
Untuk type yang standar adalah lokasi yang dinamakan dengan creation dengan ukuran 1m x 2,6m. Harganya berkisar antara dua puluhan sampai tiga puluhan juta rupiah sebelum discount. Discount tergantung cara pembayarannya, karena bisa juga dengan cara kredit. Saya tidak tanya istilahnya kalau cara pembayaran secara kredit, mungkin kalau kita kreatif memberikan singkatannya adalah "KPK" (Kredit Kepemilikan Kuburan), karena tanahnya adalah bersertifikat hak milik.
Harga juga bisa ditentukan oleh letak tanahnya, view yang berbeda harganya juga berbeda. Tanah yang view-nya menghadap ke danau lebih mahal. Pada saat kita tanya untuk yang dekat ke danau, katanya sudah terjual habis 100%. Untuk posisi yang lebih tinggi dekat dengan pohon-pohon di atas bukit, katanya juga sudah terjual habis.
Penomoran juga menentukan harga, untuk nomor cantik seperti 7, 8 dan 9 harganya lebih mahal, dan tidak terdapat nomor 4 karena angka 4 dalam pengucapan bahasa Mandarin adalah Se atau dalam dialek Hokkian adalah Si, yang bisa berarti mati. Jadi orang yang sudah mati saja dianggap masih takut akan angka 4 (mati), atau bisa diartikan orang yang sudah mati masih takut mati, padahal memang sudah mati.
Semua kuburan dalam bentuk flat (rata), untuk yang sudah terisi, tanah dan rumputnya agak sedikit lebih tinggi (± 3 cm), sehingga kita bisa membedakan yang sudah terisi (sudah dihuni) dengan yang belum terisi (belum dihuni).
Semua kuburan 1m x 2,6m langsung nempel dengan tetangga di sebelahnya dan suatu saat semua sudah terisi penuh, maka bagi saudara yang datang untuk berziarah harus berjalan di atas garis di antara kuburan, karena kalau tidak akan sedikit menginjak kuburan tetangga.
Pada saat kita tanyakan yang paling dekat dengan jalan (di pinggir jalan) katanya masih tersedia cukup banyak, dan masih terdapat sisa tanah antara 1/2 sampai 1 meter dari saluran air (got) di pinggir jalan. Ternyata menurut lanscap-nya posisi kepala ada di bawah (menghadap ke bukit). Mungkin sengaja untuk kita tidak memanfaatkan tanah yang kurang dari 1 meter di pinggir jalan untuk berdiri, supaya tidak longsor karena sering diinjak.
Dengan hanya tersisa beberapa posisi yang cukup baik yang ditunjukkan oleh marketing executive-nya, akhirnya kami memutuskan mengambil satu kapling di Hammingbird blok J27 No. 5, itulah "Rumah Masa Depan" untuk Tante kami (Siko).
Kami masuk ke kawasan Sandiego Hills Memorial Park sebagai kawasan yang masih relatif agak baru. Menurut salah seorang marketing executive-nya, bahwa saat ini baru dikembangkan seluas 50 hektar dari rencana keseluruhan 500 hektar. Kawasan yang tertata sangat rapi jauh dari kesan kuburan. Orang yang tidak tahu mungkin dikira lapangan golf yang lengkap dengan country club-nya. Ada danau, ada kolam renang, gedung pertemuan, restoran, toko bunga dan lain-lain.
Untuk type yang standar adalah lokasi yang dinamakan dengan creation dengan ukuran 1m x 2,6m. Harganya berkisar antara dua puluhan sampai tiga puluhan juta rupiah sebelum discount. Discount tergantung cara pembayarannya, karena bisa juga dengan cara kredit. Saya tidak tanya istilahnya kalau cara pembayaran secara kredit, mungkin kalau kita kreatif memberikan singkatannya adalah "KPK" (Kredit Kepemilikan Kuburan), karena tanahnya adalah bersertifikat hak milik.
Harga juga bisa ditentukan oleh letak tanahnya, view yang berbeda harganya juga berbeda. Tanah yang view-nya menghadap ke danau lebih mahal. Pada saat kita tanya untuk yang dekat ke danau, katanya sudah terjual habis 100%. Untuk posisi yang lebih tinggi dekat dengan pohon-pohon di atas bukit, katanya juga sudah terjual habis.
Penomoran juga menentukan harga, untuk nomor cantik seperti 7, 8 dan 9 harganya lebih mahal, dan tidak terdapat nomor 4 karena angka 4 dalam pengucapan bahasa Mandarin adalah Se atau dalam dialek Hokkian adalah Si, yang bisa berarti mati. Jadi orang yang sudah mati saja dianggap masih takut akan angka 4 (mati), atau bisa diartikan orang yang sudah mati masih takut mati, padahal memang sudah mati.
Semua kuburan dalam bentuk flat (rata), untuk yang sudah terisi, tanah dan rumputnya agak sedikit lebih tinggi (± 3 cm), sehingga kita bisa membedakan yang sudah terisi (sudah dihuni) dengan yang belum terisi (belum dihuni).
Semua kuburan 1m x 2,6m langsung nempel dengan tetangga di sebelahnya dan suatu saat semua sudah terisi penuh, maka bagi saudara yang datang untuk berziarah harus berjalan di atas garis di antara kuburan, karena kalau tidak akan sedikit menginjak kuburan tetangga.
Pada saat kita tanyakan yang paling dekat dengan jalan (di pinggir jalan) katanya masih tersedia cukup banyak, dan masih terdapat sisa tanah antara 1/2 sampai 1 meter dari saluran air (got) di pinggir jalan. Ternyata menurut lanscap-nya posisi kepala ada di bawah (menghadap ke bukit). Mungkin sengaja untuk kita tidak memanfaatkan tanah yang kurang dari 1 meter di pinggir jalan untuk berdiri, supaya tidak longsor karena sering diinjak.
Dengan hanya tersisa beberapa posisi yang cukup baik yang ditunjukkan oleh marketing executive-nya, akhirnya kami memutuskan mengambil satu kapling di Hammingbird blok J27 No. 5, itulah "Rumah Masa Depan" untuk Tante kami (Siko).
Sabtu, 16 Mei 2009
Terima Kasih Tuhan
Saya pernah mendengar sebuah cerita tentang mimpi seorang anak yang bertemu dengan seorang Malaikat. Malaikat ini mengajak anak ini jalan-jalan ke surga. Di surga anak ini diajak Malaikat mengunjungi sebuah ruangan yang penuh dengan para Malaikat yang sedang sibuk. Anak itu lalu bertanya kepada Malaikat,"Bapak, ruang apakah ini, mengapa semua Malaikat begitu sibuk ?" "Ini adalah ruang penerimaan permohonan, banyak sekali permohonan yang diajukan oleh manusia di dunia", jawab Malaikat itu.
Kemudian anak itu diajak ke ruang yang lain yang lebih besar lagi dan dipenuhi oleh para Malaikat yang juga terlihat sangat sibuk. Ada yang sibuk mengepak-ngepak barang. Sebelum anak itu bertanya, Malaikat itu menjelaskan kepada anak tadi, "Nah ini adalah ruangan untuk pengiriman atas permohonan manusia di dunia, karena permohonan manusia begitu banyak, sehingga yang harus dikirimkan ke dunia juga sangat banyak".
Akhirnya anak tadi diajak Malaikat itu ke sebuah lorong kecil dimana di ujung lorong terdapat sebuah ruangan kecil dan hanya dijaga oleh seorang Malaikat di sana. Anak itu terheran-heran, mengapa hampir tidak ada kegiatan apapun di ruangan tersebut. Malaikat yang menjaganya hanya duduk termenung. Lalu anak itu bertanya, "Bapak, ruang apakah ini, mengapa di sini hanya ada satu Malaikat yang menjaga dan tidak terlihat sibuk seperti di dua ruangan yang tadi kita lalui ?" Bapak Malaikat mengatakan, "Ini adalah ruang penerimaan ucapan terima kasih. Memang banyak sekali permohonan manusia kepada Tuhan, dan Tuhan hampir selalu mengabulkan permohonan manusia sesuai dengan amal dan perbuatannya, namun banyak sekali manusia yang lupa mengucapkan terima kasih".
Anak itu lalu bertanya lagi, "Jadi bagaimana cara kita berterima kasih kepada Tuhan ?" "Cukup katakan terima kasih Tuhan", jawab Malaikat itu. Anak tadi kembali bertanya, "Bagaimana kita mensyukuri nikmat Tuhan ?" Malaikat itu menjelaskan bahwa banyak sekali manusia tidak menyadari betapa beruntungnya menjadi seorang yang dikaruniai kesehatan yang baik, bebas dari rasa takut akan peperangan, memiliki pakaian yang layak untuk melindungi tubuhnya, memiliki keluarga yang kita cintai, memiliki tempat berlindung yang layak, dapat menikmati hidangan di pagi, siang dan malam hari. Jadi jangan lupa kita untuk bersyukur bahwa kita masih jauh lebih beruntung dari orang-orang yang saat ini sedang sakit, negaranya diliputi peperangan, keluarganya tidak utuh, rumahnya dilanda bencana, tidak memiliki tempat untuk berteduh yang layak, tidak dapat menikmati pendidikan atau putus sekolah karena keterbatasan biaya, bahkan masih banyak orang di dunia ini yang dilanda kelaparan. Bukankah kita masih jauh lebih beruntung dari jutaan umat manusia di dunia ini.
Anak itu terbangun dari tidur, lalu mengucapkan "Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati sinar matahari pagi ini, saya masih ingin menikmati sinar matahari esok, izinkanlah saya untuk menikmatinya Tuhan".
Oh, ya Tuhan, izinkan juga saya untuk berhubungan dengan teman-teman di dunia nyata dan dunia maya (Facebook), izinkan saya memiliki inspirasi untuk menulis di blog ini, izinkan orang-orang membaca blog saya ini, izinkan saya memperoleh sesuatu sesuai dengan harapan saya hari ini. Terima kasih Tuhan atas terkabulnya permohonan saya ini ! Amien.....!!!
Kemudian anak itu diajak ke ruang yang lain yang lebih besar lagi dan dipenuhi oleh para Malaikat yang juga terlihat sangat sibuk. Ada yang sibuk mengepak-ngepak barang. Sebelum anak itu bertanya, Malaikat itu menjelaskan kepada anak tadi, "Nah ini adalah ruangan untuk pengiriman atas permohonan manusia di dunia, karena permohonan manusia begitu banyak, sehingga yang harus dikirimkan ke dunia juga sangat banyak".
Akhirnya anak tadi diajak Malaikat itu ke sebuah lorong kecil dimana di ujung lorong terdapat sebuah ruangan kecil dan hanya dijaga oleh seorang Malaikat di sana. Anak itu terheran-heran, mengapa hampir tidak ada kegiatan apapun di ruangan tersebut. Malaikat yang menjaganya hanya duduk termenung. Lalu anak itu bertanya, "Bapak, ruang apakah ini, mengapa di sini hanya ada satu Malaikat yang menjaga dan tidak terlihat sibuk seperti di dua ruangan yang tadi kita lalui ?" Bapak Malaikat mengatakan, "Ini adalah ruang penerimaan ucapan terima kasih. Memang banyak sekali permohonan manusia kepada Tuhan, dan Tuhan hampir selalu mengabulkan permohonan manusia sesuai dengan amal dan perbuatannya, namun banyak sekali manusia yang lupa mengucapkan terima kasih".
Anak itu lalu bertanya lagi, "Jadi bagaimana cara kita berterima kasih kepada Tuhan ?" "Cukup katakan terima kasih Tuhan", jawab Malaikat itu. Anak tadi kembali bertanya, "Bagaimana kita mensyukuri nikmat Tuhan ?" Malaikat itu menjelaskan bahwa banyak sekali manusia tidak menyadari betapa beruntungnya menjadi seorang yang dikaruniai kesehatan yang baik, bebas dari rasa takut akan peperangan, memiliki pakaian yang layak untuk melindungi tubuhnya, memiliki keluarga yang kita cintai, memiliki tempat berlindung yang layak, dapat menikmati hidangan di pagi, siang dan malam hari. Jadi jangan lupa kita untuk bersyukur bahwa kita masih jauh lebih beruntung dari orang-orang yang saat ini sedang sakit, negaranya diliputi peperangan, keluarganya tidak utuh, rumahnya dilanda bencana, tidak memiliki tempat untuk berteduh yang layak, tidak dapat menikmati pendidikan atau putus sekolah karena keterbatasan biaya, bahkan masih banyak orang di dunia ini yang dilanda kelaparan. Bukankah kita masih jauh lebih beruntung dari jutaan umat manusia di dunia ini.
Anak itu terbangun dari tidur, lalu mengucapkan "Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan kesempatan kepadaku untuk menikmati sinar matahari pagi ini, saya masih ingin menikmati sinar matahari esok, izinkanlah saya untuk menikmatinya Tuhan".
Oh, ya Tuhan, izinkan juga saya untuk berhubungan dengan teman-teman di dunia nyata dan dunia maya (Facebook), izinkan saya memiliki inspirasi untuk menulis di blog ini, izinkan orang-orang membaca blog saya ini, izinkan saya memperoleh sesuatu sesuai dengan harapan saya hari ini. Terima kasih Tuhan atas terkabulnya permohonan saya ini ! Amien.....!!!
Sabtu, 02 Mei 2009
Apa Yang Kita Pikirkan Tentang Kura-Kura ?
Kalau kita mendengar kata kura-kura, apa yang paling pertama kita pikirkan tentang binatang ini ? Jawabannya adalah L A M B A T, kalau binatang ini ada di darat. Kita tidak pernah melihat kura-kura berlari dengan kencang, kalau dia dikejar sekalipun, dia tidak pernah berlari, paling-paling dia hanya menyembunyikan kepalanya di dalam tempurung yang dia bawa kemanapun dia pergi.
Alkisah ada sekelompok kura-kura yang hendak pergi bertamasya. Keputusan bulat untuk benar-benar mewujudkannya baru terjadi setelah 7 tahun lamanya.
Pada hari yang sudah ditentukan, maka berangkatlah sekelompok kura-kura itu dengan membawa berbagai bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan ke tempat yang belum mereka putuskan. Dibutuhkan waktu selama 2 tahun mereka baru menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan tempat wisata mereka, yakni di dekat sebuah danau. Maka mereka meletakkan semua barang bawaannya dan mulailah mereka membersihkan tempat tersebut.
Pada saat akan diadakan makan siang bersama, mereka baru menyadari bahwa ternyata ada makanan yang sangat pokok yang tertinggal di rumah. Maka diputuskan diadakan pengundian siapa yang harus kembali ke rumah untuk mengambil makanannya itu. Ternyata hasil pengundian jatuh kepada kura-kura yang paling kecil. Kura-kura kecil ini pun terpaksa harus setuju untuk pulang ke rumah, namun dia mengajukan satu syarat. Dia mengatakan "OK, saya akan pulang, akan tetapi acara makan siang bersama ini harus menunggu sampai saya kembali ke sini". Semua kura-kura menyatakan setuju bahwa acara makan siang bersama ini ditunda sampai kura-kura kecil kembali lagi.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan akhirnya berlalu, semua kura-kura masih sabar menunggu. Suatu ketika di bulan yang ke-empat seekor kura-kura menyatakan pendapatnya karena sudah tidak tahan lagi menahan lapar. "Bagaimana kalau kita makan saja dulu, tidak perlu menunggu sampai kura-kura kecil kembali, kita semua pasti sudah lapar bukan ?" Akhirnya semua kura-kura setuju makan siang bersama akan diadakan tanpa menu utama yang akan dibawa oleh kura-kura kecil dari rumah.
Pada saat akan makan terdengar teriakan dari belakang pohon. "Hei..........! Mengapa kalian mengingkari janji, bukankah kalian sudah setuju menunggu saya kembali dulu baru boleh makan ? Untung saja saya belum berangkat, kalau saja saya sudah berangkat, pasti saya sudah dibohongi oleh kalian semua."
Ternyata selama hampir empat bulan kura-kura kecil itu hanya bersembunyi dan menunggu di balik pohon sambil menjaga jangan-jangan semua kura-kura akan makan pada saat dia dalam perjalanan pulang ke rumah.
Manusia pun kadang-kala memiliki satu sifat yang hampir sama dengan sifat kura-kura di atas. Selalu menunggu dan menunggu. Selalu menunggu orang lain berbuat untuk kita terlebih dahulu. Suatu keputusan yang harus dijalankan bersama, kalau bisa orang lain dulu yang memulai, kita tinggal ikut di belakangnya.
Jadi apa yang sudah kita pikirkan kemarin untuk kita melangkah ke depan, apakah sudah kita putuskan untuk segera memulainya atau kita masih akan menunggu sampai tahun depan ? Haruskah kita menunggu orang lain dulu yang memulainya ? Keputusan kita kemarin menentukan hidup kita hari ini, dan keputusan hari ini menentukan hidup kita esok.
Selamat kepada anda yang sudah berinisiatif memulainya dan semoga sukses !
Saya akan menunggu dan kalau memungkinkan saya akan ikut anda dari belakang, OK !
Alkisah ada sekelompok kura-kura yang hendak pergi bertamasya. Keputusan bulat untuk benar-benar mewujudkannya baru terjadi setelah 7 tahun lamanya.
Pada hari yang sudah ditentukan, maka berangkatlah sekelompok kura-kura itu dengan membawa berbagai bekal dan perlengkapan yang dibutuhkan ke tempat yang belum mereka putuskan. Dibutuhkan waktu selama 2 tahun mereka baru menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan tempat wisata mereka, yakni di dekat sebuah danau. Maka mereka meletakkan semua barang bawaannya dan mulailah mereka membersihkan tempat tersebut.
Pada saat akan diadakan makan siang bersama, mereka baru menyadari bahwa ternyata ada makanan yang sangat pokok yang tertinggal di rumah. Maka diputuskan diadakan pengundian siapa yang harus kembali ke rumah untuk mengambil makanannya itu. Ternyata hasil pengundian jatuh kepada kura-kura yang paling kecil. Kura-kura kecil ini pun terpaksa harus setuju untuk pulang ke rumah, namun dia mengajukan satu syarat. Dia mengatakan "OK, saya akan pulang, akan tetapi acara makan siang bersama ini harus menunggu sampai saya kembali ke sini". Semua kura-kura menyatakan setuju bahwa acara makan siang bersama ini ditunda sampai kura-kura kecil kembali lagi.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan akhirnya berlalu, semua kura-kura masih sabar menunggu. Suatu ketika di bulan yang ke-empat seekor kura-kura menyatakan pendapatnya karena sudah tidak tahan lagi menahan lapar. "Bagaimana kalau kita makan saja dulu, tidak perlu menunggu sampai kura-kura kecil kembali, kita semua pasti sudah lapar bukan ?" Akhirnya semua kura-kura setuju makan siang bersama akan diadakan tanpa menu utama yang akan dibawa oleh kura-kura kecil dari rumah.
Pada saat akan makan terdengar teriakan dari belakang pohon. "Hei..........! Mengapa kalian mengingkari janji, bukankah kalian sudah setuju menunggu saya kembali dulu baru boleh makan ? Untung saja saya belum berangkat, kalau saja saya sudah berangkat, pasti saya sudah dibohongi oleh kalian semua."
Ternyata selama hampir empat bulan kura-kura kecil itu hanya bersembunyi dan menunggu di balik pohon sambil menjaga jangan-jangan semua kura-kura akan makan pada saat dia dalam perjalanan pulang ke rumah.
Manusia pun kadang-kala memiliki satu sifat yang hampir sama dengan sifat kura-kura di atas. Selalu menunggu dan menunggu. Selalu menunggu orang lain berbuat untuk kita terlebih dahulu. Suatu keputusan yang harus dijalankan bersama, kalau bisa orang lain dulu yang memulai, kita tinggal ikut di belakangnya.
Jadi apa yang sudah kita pikirkan kemarin untuk kita melangkah ke depan, apakah sudah kita putuskan untuk segera memulainya atau kita masih akan menunggu sampai tahun depan ? Haruskah kita menunggu orang lain dulu yang memulainya ? Keputusan kita kemarin menentukan hidup kita hari ini, dan keputusan hari ini menentukan hidup kita esok.
Selamat kepada anda yang sudah berinisiatif memulainya dan semoga sukses !
Saya akan menunggu dan kalau memungkinkan saya akan ikut anda dari belakang, OK !
Kamis, 23 April 2009
Bersikap 3 TIF
Dua minggu terakhir ini masalah politik seputar Pemilu banyak sekali dibahas di berbagai media. Di kantor, di lingkungan tempat tinggal, di warung makan, di kedai kopi sampai dengan di pasar-pasar, setiap orang membahas masalah politik terlepas dari mengerti maupun hanya ikut-ikutan saja. Orang yang membahas seputar Pemilu juga tidak kalah serunya, kadang-kadang sampai setengah berteriak, seperti orang sedang menonton pertandingan sepak bola, adakalanya orang diluar lapangan kelihatan lebih pintar dari yang sedang bermain, komentarnya pun macam-macam. Misalnya "Ah... bego kali, gitu aja ngak masuk !"
Memang sangat menarik untuk disimak gonjang-ganjing seputar Pemilu karena setiap detik selalu berubah. Kemarin kita mendengar berita Partai A akan berkoalisi dengan Partai B, hari ini Partai A akan berkoalisi lagi dengan Partai C, lalu besoknya Partai B mau pisah dari Partai A gara-gara Partai A menggandeng Partai C. Waduh lama-lama kita ikutan pusing juga, para politisi seperti sedang isi teka-teki silang saja, isi kolom mendatarnya sudah cocok, giliran isi kolom menurunnya ternyata tidak cocok dengan kolom mendatarnya.
Lebih baik kali ini saya tidak menulis seputar politik saja takut para pembaca jadi bosan, politik memulu. Jadi saya mencoba menceritakan apa yang saya dengar di radio yang saya anggap cukup menarik. Kemarin waktu pulang dari kantor, saya mendengarkan radio Trijaya FM dalam acara Life Excellance bersama Jamil Azzaini. Saya tidak mendengarkan dari awal, akan tetapi kesimpulan akhirnya masih sempat saya dengarkan. Kalau tidak salah topiknya "menciptakan kemuliaan di tempat kerja". Saya mencoba menceritakan kembali di sini, mungkin tidak sesempurna yang beliau bawakan, akan tetapi mungkin masih bermanfaat bagi yang belum mendengarkan dan bermanfaat bagi diri saya sendiri agar tidak lupa begitu saja setelah mendengarkan.
Menurut beliau bahwa untuk menciptakan kemuliaan di tempat kerja harus ada 3 sikap tif, yakni bersikap positif, produktif dan kontributif. Saya mencoba menguraikan ke-3 tif ini menurut versi saya.
Bersikap Positif
Inti dari bersikap positif adalah selalu bersyukur serta melihat segala sesuatu dari sisi baiknya. Ada orang yang merasa sangat tidak nyaman dengan pekerjaannya dan lingkungan kerjanya sehingga membanding-bandingkan dengan pekerjaan orang lain, gajinya lebih besar, mobilnya lebih bagus dan sebagainya. Selalu melihat rumput di halaman tetangga lebih hijau dari rumput halaman rumahnya. Padahal dengan memiliki pekerjaan saja, kita sudah sangat beruntung dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki pekerjaan atau yang terkena PHK, apalagi dalam kondisi ekonomi dunia saat ini.
Bersikap Produktif
Dengan hanya bersikap positif saja tidaklah cukup, maka kita dituntut untuk bersikap produktif. Mungkin kita beranggapan bahwa kita harus menjadi sapi perah perusahaan jika kita dituntut untuk produktif. Sapi perah memang dituntut untuk menghasilkan susu, ayam petelur dituntut untuk bertelur. Jika sapi perah tidak menghasilkan susu atau ayam petelur tidak menghasilkan telur, maka sapi dan ayam itu sudah tidak berguna bagi peternaknya. Sebagai manusia kita juga dituntut untuk bisa menghasilkan. Apa yang dihasilkan oleh manusia ? Jawabannya adalah prestasi. Prestasi setiap orang berbeda-beda, setiap orang dapat memberikan prestasi terbaik sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Seorang yang bekerja di bagian Marketing dituntut untuk menjual produknya sesuai dengan target perusahaan. Seorang yang bekerja di bagian Accounting dituntut untuk membuat laporan keuangan perusahaan tepat pada waktunya. Begitulah hidup manusia, memang sudah seharusnya kita menghasilkan suatu prestasi, untuk itulah kita dibayar sebagai imbalan atas prestasi kita.
Bersikap kontributif
Setelah kita bersikap positif dan produktif, maka kita perlu bersikap kontributif atau harus memberikan manfaat kepada orang lain. Mungkin kita berpikir jika kita memberikan manfaat kepada orang lain, apakah orang lain membalas memberikan manfaat juga kepada kita. Kalau kita masih terus menerus mengejar manfaat untuk diri sendiri, maka kita masih belum bisa bersikap kontributif. Dalam kita memberikan kontribusi kepada orang lain, sebisa mungkin kita jangan mengharapkan balasan apapun dari yang kita berikan. Inti dari pada bersikap kontributif adalah melayani, jadi tidak harus selalu dalam bentuk uang ataupun materi secara fisik. Kontribusi yang kita berikan dalam bentuk apapun juga asal memberikan manfaat kepada orang lain akan mendapatkan balasan dari Yang Maha Kuasa.
Saya terkesan dengan ucapan seorang aktor, Jet Li pada suatu acara penghargaan beberapa waktu yang lalu di suatu stasiun TV. Dia mengatakan "Ke Chu Chi Tek Ciu Se Wa Men Tek". Artinya sesuatu yang telah diberikan keluar itulah sesungguhnya milik kita. Misalnya kita memberikan sebuah jam tangan kepada orang lain, mungkin kita sudah tidak ingat lagi pemberian kita itu, akan tetapi karena jam tangan itu dipakai oleh orang yang menerimanya, dia akan selalu mengingat akan pemberian kita itu. Apalagi pemberian-pemberian yang memang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang sedang membutuhkan.
Dengan memberikan kontribusi manfaatnya tidak hanya dirasakan orang yang menerima akan tetapi juga bermanfaat bagi orang yang memberi. Mudah-mudahan dengan menceritakan hal-hal yang baik saya juga dapat berkontribusi. Apalagi setelah anda membaca blog saya ini dapat menggugah hati anda untuk juga berkontribusi kepada orang lain yang barangkali sedang menunggu uluran tangan anda.
Memang sangat menarik untuk disimak gonjang-ganjing seputar Pemilu karena setiap detik selalu berubah. Kemarin kita mendengar berita Partai A akan berkoalisi dengan Partai B, hari ini Partai A akan berkoalisi lagi dengan Partai C, lalu besoknya Partai B mau pisah dari Partai A gara-gara Partai A menggandeng Partai C. Waduh lama-lama kita ikutan pusing juga, para politisi seperti sedang isi teka-teki silang saja, isi kolom mendatarnya sudah cocok, giliran isi kolom menurunnya ternyata tidak cocok dengan kolom mendatarnya.
Lebih baik kali ini saya tidak menulis seputar politik saja takut para pembaca jadi bosan, politik memulu. Jadi saya mencoba menceritakan apa yang saya dengar di radio yang saya anggap cukup menarik. Kemarin waktu pulang dari kantor, saya mendengarkan radio Trijaya FM dalam acara Life Excellance bersama Jamil Azzaini. Saya tidak mendengarkan dari awal, akan tetapi kesimpulan akhirnya masih sempat saya dengarkan. Kalau tidak salah topiknya "menciptakan kemuliaan di tempat kerja". Saya mencoba menceritakan kembali di sini, mungkin tidak sesempurna yang beliau bawakan, akan tetapi mungkin masih bermanfaat bagi yang belum mendengarkan dan bermanfaat bagi diri saya sendiri agar tidak lupa begitu saja setelah mendengarkan.
Menurut beliau bahwa untuk menciptakan kemuliaan di tempat kerja harus ada 3 sikap tif, yakni bersikap positif, produktif dan kontributif. Saya mencoba menguraikan ke-3 tif ini menurut versi saya.
Bersikap Positif
Inti dari bersikap positif adalah selalu bersyukur serta melihat segala sesuatu dari sisi baiknya. Ada orang yang merasa sangat tidak nyaman dengan pekerjaannya dan lingkungan kerjanya sehingga membanding-bandingkan dengan pekerjaan orang lain, gajinya lebih besar, mobilnya lebih bagus dan sebagainya. Selalu melihat rumput di halaman tetangga lebih hijau dari rumput halaman rumahnya. Padahal dengan memiliki pekerjaan saja, kita sudah sangat beruntung dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki pekerjaan atau yang terkena PHK, apalagi dalam kondisi ekonomi dunia saat ini.
Bersikap Produktif
Dengan hanya bersikap positif saja tidaklah cukup, maka kita dituntut untuk bersikap produktif. Mungkin kita beranggapan bahwa kita harus menjadi sapi perah perusahaan jika kita dituntut untuk produktif. Sapi perah memang dituntut untuk menghasilkan susu, ayam petelur dituntut untuk bertelur. Jika sapi perah tidak menghasilkan susu atau ayam petelur tidak menghasilkan telur, maka sapi dan ayam itu sudah tidak berguna bagi peternaknya. Sebagai manusia kita juga dituntut untuk bisa menghasilkan. Apa yang dihasilkan oleh manusia ? Jawabannya adalah prestasi. Prestasi setiap orang berbeda-beda, setiap orang dapat memberikan prestasi terbaik sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Seorang yang bekerja di bagian Marketing dituntut untuk menjual produknya sesuai dengan target perusahaan. Seorang yang bekerja di bagian Accounting dituntut untuk membuat laporan keuangan perusahaan tepat pada waktunya. Begitulah hidup manusia, memang sudah seharusnya kita menghasilkan suatu prestasi, untuk itulah kita dibayar sebagai imbalan atas prestasi kita.
Bersikap kontributif
Setelah kita bersikap positif dan produktif, maka kita perlu bersikap kontributif atau harus memberikan manfaat kepada orang lain. Mungkin kita berpikir jika kita memberikan manfaat kepada orang lain, apakah orang lain membalas memberikan manfaat juga kepada kita. Kalau kita masih terus menerus mengejar manfaat untuk diri sendiri, maka kita masih belum bisa bersikap kontributif. Dalam kita memberikan kontribusi kepada orang lain, sebisa mungkin kita jangan mengharapkan balasan apapun dari yang kita berikan. Inti dari pada bersikap kontributif adalah melayani, jadi tidak harus selalu dalam bentuk uang ataupun materi secara fisik. Kontribusi yang kita berikan dalam bentuk apapun juga asal memberikan manfaat kepada orang lain akan mendapatkan balasan dari Yang Maha Kuasa.
Saya terkesan dengan ucapan seorang aktor, Jet Li pada suatu acara penghargaan beberapa waktu yang lalu di suatu stasiun TV. Dia mengatakan "Ke Chu Chi Tek Ciu Se Wa Men Tek". Artinya sesuatu yang telah diberikan keluar itulah sesungguhnya milik kita. Misalnya kita memberikan sebuah jam tangan kepada orang lain, mungkin kita sudah tidak ingat lagi pemberian kita itu, akan tetapi karena jam tangan itu dipakai oleh orang yang menerimanya, dia akan selalu mengingat akan pemberian kita itu. Apalagi pemberian-pemberian yang memang sangat bermanfaat bagi orang-orang yang sedang membutuhkan.
Dengan memberikan kontribusi manfaatnya tidak hanya dirasakan orang yang menerima akan tetapi juga bermanfaat bagi orang yang memberi. Mudah-mudahan dengan menceritakan hal-hal yang baik saya juga dapat berkontribusi. Apalagi setelah anda membaca blog saya ini dapat menggugah hati anda untuk juga berkontribusi kepada orang lain yang barangkali sedang menunggu uluran tangan anda.
Kamis, 16 April 2009
Bagaimana Agar Warga Tidak Terdaftar Dalam DPT Dapat Menggunakan Hak Pilihnya
Jika anda ikut mencontreng pada Pemilu Legislatif pada tanggal 9 April yang lalu, berarti sudah 1 minggu berlalu, mungkin di antara anda jarinya masih terdapat sisa-sisa tinta yang belum sepenuhnya hilang, terutama pada bagian kuku.
Ini membuktikan bahwa tintanya memang cukup tahan, kecuali kita berusaha membersihkannya dengan chemical atau dengan mengkikis kuku kita dari sisa-sisa tinta Pemilu.
Kita mendengar banyak sekali pembicaraan tentang ketidakpuasan atas penyelenggaraan Pemilu Legislatif yang lalu terutama mengenai Daftar Pemilih Tetap (DPT), terutama dari kalangan parpol dan caleg yang jumlah perolehan suaranya menurun atau yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Ada yang mengatakan jumlahnya mencapai jutaan orang yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya. Ironisnya di sisi lain banyak juga warga masyarakat yang sebenarnya terdaftar dalam DPT tetapi tidak mau menggunakan hak pilihnya (golput). Namun untuk yang golput tidak diblow-up seperti yang tidak terdaftar dalam DPT. Pada kenyataannya apakah ada suatu hitungan yang akurat mengenai jumlah warga yang berhak memilih namun tidak terdaftar dalam DPT, apakah benar jumlahnya ada jutaan orang. Saya pribadi masih meragukan hal itu.
Kekisruhan mengenai DPT terjadi karena data yang digunakan adalah data penduduk yang berhak menggunakan hak pilih pada tanggal 5 April 2008. Jadi ada beda waktu selama 1 tahun sampai dengan tanggal pemungutan suara tanggal 9 April 2009. Tentunya ada penduduk yang pada tanggal 5 April 2008 belum berhak untuk menggunakan suaranya, sedangkan pada tanggal 9 April 2009 sudah berhak. Hal ini yang mungkin tidak diantisipasi oleh KPU. Bagaimana untuk pemilih pemula baru yang akan muncul setelah 5 April 2008 sampai dengan tanggal pemungutan suara pada 5 April 2009.
Ada tokoh dari parpol yang mengatakan bahwa Pemilu Legislatif kemarin merupakan Pemilu terburuk sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia. Mungkin pernyataan-pernyataan yang terlalu ekstrim dan kurang bertanggung jawab jika kita melempar semua kesalahan kepada pemerintah dan KPU tanpa memberikan suatu solusinya, terutama untuk menghadapi Pemilu Presiden pada tanggal 8 Juli 2009 mendatang. Bahkan ada yang mengaitkan perolehan suara yang menurun dengan masalah kekisruhan DPT. Ada anggapan bahwa KPU telah memihak kepada partai tertentu. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah ada korelasinya ? Apakah KPU maupun pemerintah tahu secara persis setiap warga yang akan memilih partai tertentu, sehingga tidak didaftarkan dalam DPT. Menurut saya itu hanya untuk mencari kambing hitam semata. Saya melihat banyak caleg dan partai yang terlalu percaya diri dengan memasang target dan harapan yang terlalu tinggi, sehingga pada saat mengetahui perolehan suaranya tidak sesuai dengan harapan seakan-akan tidak percaya dan tidak dapat terima kenyataan.
Menurut saya penyelenggaraan Pemilu kemarin terbilang cukup sukses dan berjalan lancar, terutama dari segi stabilitas dan keamanan. Terbukti dengan membaiknya bursa saham kita yang menunjukkan ke arah perbaikan dengan naiknya IHSG ke level sekitar 1.600 dan kurs Rupiah terhadap beberapa mata uang asing yang terus membaik, terutama terhadap Dollar Amerika yang sudah menguat di bawah Rp. 11.000/USD, dan ada kemungkinan ditarik sampai di kisaran Rp. 10.000 - 10.500/USD.
Memang perlu diadakan pembenahan lagi mengenai DPT, seperti yang dikatakan oleh Presiden SBY, bahwa perlu adanya pembenahan lebih lanjut mengenai DPT terutama untuk menghadapi Pemilu Presiden nanti. Pemutakhiran data-data pemilih perlu sesegera mungkin dilakukan oleh KPU berdasarkan laporan-laporan yang masuk ke Bawaslu.
Sebagai orang awam, saya melihat sebenarnya kekisruhan mengenai DPT tidak perlu sampai terjadi. Pemungutan suara dilakukan mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 12.00 waktu setempat. Biasanya pemilih akan datang pada saat awal pemilihan antara 07.00 sampai dengan pukul 10.00. Sedangkan pada pukul 10.00 ke atas biasanya mulai agak sepi. Sebaiknya warga setempat yang tidak terdaftar dalam DPT akan tetapi memang berhak dengan dibuktikan KTP dan KK dapat diberikan kesempatan untuk memilih mulai pukul 11.00 sampai dengan pukul 13.00, toh jumlahnya juga tidak akan terlalu banyak dibandingkan dengan sisa kertas suara bagi warga yang golput. Tentunya pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT ini akan dicatat dalam daftar tersendiri dan disaksikan oleh para saksi di TPS-TPS setempat. Jika dikhawatirkan orang memilih sampai 2 kali, kan jarinya sudah dicelupin tinta, bila perlu untuk pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT, jarinya dicelupin tinta sampai 2 jari untuk membedakan dengan pemilih yang mendapat undangan untuk memilih dan terdaftar dalam DPT.
Jika ada warga yang hendak memilih di 2 TPS yang berbeda, tentunya waktu yang disediakan juga sangat terbatas belum lagi membersihkan tinta Pemilu yang masih segar dan tertempel di 2 jari, tentu bukan hal yang mudah. Apakah ada orang yang kurang kerjaan hanya untuk menambah 1 suara sampai harus berkorban mengkikis jarinya dari tempelan tinta Pemilu sampai kulit mengelupas, memangnya dibayar berapa oleh parpol.
Mudah-mudahan KPU segera dapat membenahi masalah DPT ini dan mencarikan jalan keluar terbaik untuk penyelenggaraan Pemilu Presiden pada tanggal 8 Juli 2009 nanti. Harapan kami tentunya pelaksanaan Pemilu dapat berjalan dengan sukses, aman dan damai.
Ini membuktikan bahwa tintanya memang cukup tahan, kecuali kita berusaha membersihkannya dengan chemical atau dengan mengkikis kuku kita dari sisa-sisa tinta Pemilu.
Kita mendengar banyak sekali pembicaraan tentang ketidakpuasan atas penyelenggaraan Pemilu Legislatif yang lalu terutama mengenai Daftar Pemilih Tetap (DPT), terutama dari kalangan parpol dan caleg yang jumlah perolehan suaranya menurun atau yang tidak sesuai dengan harapan mereka. Ada yang mengatakan jumlahnya mencapai jutaan orang yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya. Ironisnya di sisi lain banyak juga warga masyarakat yang sebenarnya terdaftar dalam DPT tetapi tidak mau menggunakan hak pilihnya (golput). Namun untuk yang golput tidak diblow-up seperti yang tidak terdaftar dalam DPT. Pada kenyataannya apakah ada suatu hitungan yang akurat mengenai jumlah warga yang berhak memilih namun tidak terdaftar dalam DPT, apakah benar jumlahnya ada jutaan orang. Saya pribadi masih meragukan hal itu.
Kekisruhan mengenai DPT terjadi karena data yang digunakan adalah data penduduk yang berhak menggunakan hak pilih pada tanggal 5 April 2008. Jadi ada beda waktu selama 1 tahun sampai dengan tanggal pemungutan suara tanggal 9 April 2009. Tentunya ada penduduk yang pada tanggal 5 April 2008 belum berhak untuk menggunakan suaranya, sedangkan pada tanggal 9 April 2009 sudah berhak. Hal ini yang mungkin tidak diantisipasi oleh KPU. Bagaimana untuk pemilih pemula baru yang akan muncul setelah 5 April 2008 sampai dengan tanggal pemungutan suara pada 5 April 2009.
Ada tokoh dari parpol yang mengatakan bahwa Pemilu Legislatif kemarin merupakan Pemilu terburuk sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia. Mungkin pernyataan-pernyataan yang terlalu ekstrim dan kurang bertanggung jawab jika kita melempar semua kesalahan kepada pemerintah dan KPU tanpa memberikan suatu solusinya, terutama untuk menghadapi Pemilu Presiden pada tanggal 8 Juli 2009 mendatang. Bahkan ada yang mengaitkan perolehan suara yang menurun dengan masalah kekisruhan DPT. Ada anggapan bahwa KPU telah memihak kepada partai tertentu. Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah ada korelasinya ? Apakah KPU maupun pemerintah tahu secara persis setiap warga yang akan memilih partai tertentu, sehingga tidak didaftarkan dalam DPT. Menurut saya itu hanya untuk mencari kambing hitam semata. Saya melihat banyak caleg dan partai yang terlalu percaya diri dengan memasang target dan harapan yang terlalu tinggi, sehingga pada saat mengetahui perolehan suaranya tidak sesuai dengan harapan seakan-akan tidak percaya dan tidak dapat terima kenyataan.
Menurut saya penyelenggaraan Pemilu kemarin terbilang cukup sukses dan berjalan lancar, terutama dari segi stabilitas dan keamanan. Terbukti dengan membaiknya bursa saham kita yang menunjukkan ke arah perbaikan dengan naiknya IHSG ke level sekitar 1.600 dan kurs Rupiah terhadap beberapa mata uang asing yang terus membaik, terutama terhadap Dollar Amerika yang sudah menguat di bawah Rp. 11.000/USD, dan ada kemungkinan ditarik sampai di kisaran Rp. 10.000 - 10.500/USD.
Memang perlu diadakan pembenahan lagi mengenai DPT, seperti yang dikatakan oleh Presiden SBY, bahwa perlu adanya pembenahan lebih lanjut mengenai DPT terutama untuk menghadapi Pemilu Presiden nanti. Pemutakhiran data-data pemilih perlu sesegera mungkin dilakukan oleh KPU berdasarkan laporan-laporan yang masuk ke Bawaslu.
Sebagai orang awam, saya melihat sebenarnya kekisruhan mengenai DPT tidak perlu sampai terjadi. Pemungutan suara dilakukan mulai pukul 07.00 sampai dengan pukul 12.00 waktu setempat. Biasanya pemilih akan datang pada saat awal pemilihan antara 07.00 sampai dengan pukul 10.00. Sedangkan pada pukul 10.00 ke atas biasanya mulai agak sepi. Sebaiknya warga setempat yang tidak terdaftar dalam DPT akan tetapi memang berhak dengan dibuktikan KTP dan KK dapat diberikan kesempatan untuk memilih mulai pukul 11.00 sampai dengan pukul 13.00, toh jumlahnya juga tidak akan terlalu banyak dibandingkan dengan sisa kertas suara bagi warga yang golput. Tentunya pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT ini akan dicatat dalam daftar tersendiri dan disaksikan oleh para saksi di TPS-TPS setempat. Jika dikhawatirkan orang memilih sampai 2 kali, kan jarinya sudah dicelupin tinta, bila perlu untuk pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT, jarinya dicelupin tinta sampai 2 jari untuk membedakan dengan pemilih yang mendapat undangan untuk memilih dan terdaftar dalam DPT.
Jika ada warga yang hendak memilih di 2 TPS yang berbeda, tentunya waktu yang disediakan juga sangat terbatas belum lagi membersihkan tinta Pemilu yang masih segar dan tertempel di 2 jari, tentu bukan hal yang mudah. Apakah ada orang yang kurang kerjaan hanya untuk menambah 1 suara sampai harus berkorban mengkikis jarinya dari tempelan tinta Pemilu sampai kulit mengelupas, memangnya dibayar berapa oleh parpol.
Mudah-mudahan KPU segera dapat membenahi masalah DPT ini dan mencarikan jalan keluar terbaik untuk penyelenggaraan Pemilu Presiden pada tanggal 8 Juli 2009 nanti. Harapan kami tentunya pelaksanaan Pemilu dapat berjalan dengan sukses, aman dan damai.
Senin, 06 April 2009
Hidup Sehat
Berkenaan dengan Hari Kesehatan Sedunia yang jatuh pada tanggal 7 April, saya mencoba berbagi sedikit tip hidup sehat yang saya baca dan saya dengar dari orang-orang bijak.
Beberapa waktu yang lalu, pada saat saya makan siang, saya membaca suatu pedoman hidup yang tertempel di dinding restoran, berbunyi :
"Kekuatan yang paling menyegarkan jiwa adalah agama yang sehat, tidur, musik dan ketawa.
Percayalah kepada Tuhan.
Belajarlah tidur yang pulas.
Gemarilah musik yang indah.
Lihatlah segi kehidupan yang menyenangkan.
Maka hidup anda akan sehat dan bahagia."
Beberapa hari yang lalu, saat kami diajak makan siang dengan Pak Johan Yoranouw dan team-nya dari KAP Johan Malonda, kami berbicara mengenai cara hidup sehat. Saya mengutarakan hal tersebut di atas kepada Pak Johan. Dengan cepat Pak Johan menanggapinya dengan mengatakan "koq tidak menyebutkan makan, padahal makan kan juga penting." Pernyataan Pak Johan memang benar, bagaimana bisa sehat dan bahagia, kalau kita tidak makan dan minum, tentunya makanan dan minuman yang sehat juga.
Saya menerima beberapa tip hidup sehat yang dikirimkan oleh Pak Johan beberapa hari yang lalu. Dalam pedoman hidup sehat cara Pak Johan, yang cukup penting juga adalah olah raga.
Jadi dua hal yang belum ditambahkan dalam pedoman hidup sehat yang saya baca di dinding restoran itu adalah makan dan minum yang sehat serta olah raga yang teratur. Yang mengherankan adalah di restoran koq tidak ditonjolkan masalah makan sebagai unsur penting dalam hidup.
Dari setiap unsur di atas, masing-masing memegang peranan yang sama pentingnya. Kita tidak dapat menghilangkan salah satu unsur, misalnya musik atau ketawa. Mungkin orang akan mengatakan bagaimana disuruh ketawa, kalau kita sedang sedih, bagaimana kita bisa menikmati musik yang indah, kalau kita tidak lagi mood. Kita boleh sedih, kecewa, kita juga boleh marah akan tetapi jangan lama-lama bersedih, kecewa jangan sampai frustasi justru harus cepat bangkit kembali, marah juga jangan terus menerus, emosi juga harus dapat kita kendalikan.
Mari kita berpikir lebih positif agar hidup ini menjadi lebih sehat dan menyenangkan !!!
Beberapa waktu yang lalu, pada saat saya makan siang, saya membaca suatu pedoman hidup yang tertempel di dinding restoran, berbunyi :
"Kekuatan yang paling menyegarkan jiwa adalah agama yang sehat, tidur, musik dan ketawa.
Percayalah kepada Tuhan.
Belajarlah tidur yang pulas.
Gemarilah musik yang indah.
Lihatlah segi kehidupan yang menyenangkan.
Maka hidup anda akan sehat dan bahagia."
Beberapa hari yang lalu, saat kami diajak makan siang dengan Pak Johan Yoranouw dan team-nya dari KAP Johan Malonda, kami berbicara mengenai cara hidup sehat. Saya mengutarakan hal tersebut di atas kepada Pak Johan. Dengan cepat Pak Johan menanggapinya dengan mengatakan "koq tidak menyebutkan makan, padahal makan kan juga penting." Pernyataan Pak Johan memang benar, bagaimana bisa sehat dan bahagia, kalau kita tidak makan dan minum, tentunya makanan dan minuman yang sehat juga.
Saya menerima beberapa tip hidup sehat yang dikirimkan oleh Pak Johan beberapa hari yang lalu. Dalam pedoman hidup sehat cara Pak Johan, yang cukup penting juga adalah olah raga.
Jadi dua hal yang belum ditambahkan dalam pedoman hidup sehat yang saya baca di dinding restoran itu adalah makan dan minum yang sehat serta olah raga yang teratur. Yang mengherankan adalah di restoran koq tidak ditonjolkan masalah makan sebagai unsur penting dalam hidup.
Dari setiap unsur di atas, masing-masing memegang peranan yang sama pentingnya. Kita tidak dapat menghilangkan salah satu unsur, misalnya musik atau ketawa. Mungkin orang akan mengatakan bagaimana disuruh ketawa, kalau kita sedang sedih, bagaimana kita bisa menikmati musik yang indah, kalau kita tidak lagi mood. Kita boleh sedih, kecewa, kita juga boleh marah akan tetapi jangan lama-lama bersedih, kecewa jangan sampai frustasi justru harus cepat bangkit kembali, marah juga jangan terus menerus, emosi juga harus dapat kita kendalikan.
Mari kita berpikir lebih positif agar hidup ini menjadi lebih sehat dan menyenangkan !!!
Kamis, 19 Maret 2009
Pemilu Presiden Cukup Satu Putaran
Sebentar lagi kita akan menghadapi Pemilu, yang puncaknya adalah pemilihan presiden secara langsung untuk kedua kalinya di negeri ini. Sekarang ini sedang memasuki masa kampanye terbuka. Kita melihat partai-partai besar sedang memainkan manuver-manuver politiknya dengan berbagai penjajakan awal dalam rangka koalisi. Ujung-ujungnya adalah pembagian kekuasaan di dalam pemerintahan. Yang tidak masuk di dalam pemerintahan menamakan diri sebagai oposisi yang notabene adalah "musuh pemerintah".
Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga yang relatif masih agak baru, masih jauh dari contoh negara demokrasi terbesar Amerika Serikat. Ketika Abraham Lincoln bersaing dengan Edwin M. Stanton pada pemilu di Amerika Serikat tahun 1861, Stanton menjadikan Abraham Lincoln sebagai musuh dengan memfitnah untuk menjatuhkan Abraham Lincoln. Namun ketika Abraham Lincoln menang dan menjadi Presiden Amerika Serikat ke-16, dia mengangkat Stanton untuk posisi yang sangat strateris sebagai Menteri Peperangan (Secretary of War). Stanton menjadi teman yang sangat setia kepada Abraham Lincoln. Itulah cara Abraham Lincoln dalam menaklukkan musuh dengan menjadikannya sebagai teman.
Kita juga masih ingat akan pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2008 yang baru lalu. Barack Obama bersaing dengan Hillary Rodham Clinton untuk memperebutkan kursi calon presiden dari Partai Demokrat. Ketika Hillary kalah dari Obama, Hillary mengajak para pendukungnya untuk mendukung Obama dalam bersaing dengan calon dari Partai Republik, Jhon McCain. Barack Obama akhirnya menang dan menjadi presiden Amerika Serikat yang ke-44 yang sekaligus sebagai presiden kulit hitam yang pertama di Amerika Serikat. Dan Hillary diajak bergabung dalam kabinetnya menjadi Menteri Luar Negeri. Seorang calon presiden yang juga mantan First Lady Amerika Serikat mau menerima jabatan sebagai Menteri Luar Negeri.
Kita masih perlu banyak belajar jika ingin menjadi negara demokrasi yang sesungguhnya. Kebesaran hati dari orang-orang tersebut di atas sangat patut kita jadikan contoh untuk proses demokrasi di negara kita. Di negara kita kalau sudah menjadi presiden atau calon presiden, kalau sudah kalah tetap tidak mau menjadi wakil presiden apalagi cuma menteri. Saya membayangkan betapa kuat negara kita jika semua pemimpin partai, para calon presiden bergabung bersama-sama membangun negeri ini sesuai dengan bidang kemampuan masing-masing.
Tanpa mengecilkan partai-partai baru dan partai menengah pada pemilu tahun 2004. Kita ambil dari 2 partai terbesar pada pemilu 2004 yakni Partai Golkar dan PDIP serta partai pendukung utama pemerintah sekarang yakni Partai Demokrat. Misalkan ketiga partai tersebut masih mendapatkan suara yang cukup besar yakni menjadi 3 besar, maka Yusuf Kalla, Megawati dan SBY akan bersaing memperebutkan kursi presiden. Yang menang menjadi presidennya, yang nomor dua menjadi wakil presiden, sedangkan yang nomor 3 menjadi Menteri Koordinator. SBY memiliki kemampuan di bidang politik, keamanan dan diplomasi luar negeri cocok untuk Menko Polkam, Megawati yang katanya memperhatikan rakyat kecil, menciptakan sembako murah cocok menjadi Menko Kesra, sedangkan Yusuf Kalla yang berlatar belakang saudagar yang sukses, pintar dalam dunia bisnis dan perdagangan cocok untuk Menko Perekonomian. Kalau Presiden dan Wakil Presiden tentu sudah dapat mengatur ketiga bidang tersebut dengan pembagian tugas kepada pembantunya sesuai bidang kemampuan masing-masing. Dengan cara seperti ini, wakil presiden tidak perlu satu paket dengan presidennya. Pemilu presidenpun cukup satu putaran saja, bahkan satu Menko juga secara otomatis langsung terpilih, yang penting sebelum pemilu presiden 3 partai terbesar melakukan koalisi dan kesepakatan terlebih dahulu.
Akan tetapi tentu hal ini agak sulit terjadi, karena tidak ada kebesaran hati dalam menerima kekalahan, masing-masing pemimpin masih menganggap dirinya yang terbaik, orang lain tidak akan sebaik dirinya. Kalau sudah kalah masih berusaha dengan berbagai upaya, menganggap terjadi kecurangan, menghendaki pemilu ulang, seperti yang terjadi dalam Pilkada Jawa Timur. Kalau sampai benar-benar kalah, lebih baik menjadi oposisi, merasa lebih terhormat. Itulah negara kita yang menjadi negara demokrasi nomor tiga terbesar dunia setelah Amerika Serikat dan India.
Kita sebagai rakyat yang awam persoalan politik, tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang akan menjadi presiden dan wakil presiden, asalkan para pemimpin di atas benar-benar memperjuangkan nasib rakyat, bahu membahu bersama dengan jajaran kabinet serta wakil rakyat di parlemen membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Kita butuh pemimpin yang legowo, berhati besar, bijaksana, mulia dan adil terhadap semua rakyatnya. Gunakan hak pilih kita untuk memilih sesuai dengan hati nurani kita masing-masing.
Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga yang relatif masih agak baru, masih jauh dari contoh negara demokrasi terbesar Amerika Serikat. Ketika Abraham Lincoln bersaing dengan Edwin M. Stanton pada pemilu di Amerika Serikat tahun 1861, Stanton menjadikan Abraham Lincoln sebagai musuh dengan memfitnah untuk menjatuhkan Abraham Lincoln. Namun ketika Abraham Lincoln menang dan menjadi Presiden Amerika Serikat ke-16, dia mengangkat Stanton untuk posisi yang sangat strateris sebagai Menteri Peperangan (Secretary of War). Stanton menjadi teman yang sangat setia kepada Abraham Lincoln. Itulah cara Abraham Lincoln dalam menaklukkan musuh dengan menjadikannya sebagai teman.
Kita juga masih ingat akan pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2008 yang baru lalu. Barack Obama bersaing dengan Hillary Rodham Clinton untuk memperebutkan kursi calon presiden dari Partai Demokrat. Ketika Hillary kalah dari Obama, Hillary mengajak para pendukungnya untuk mendukung Obama dalam bersaing dengan calon dari Partai Republik, Jhon McCain. Barack Obama akhirnya menang dan menjadi presiden Amerika Serikat yang ke-44 yang sekaligus sebagai presiden kulit hitam yang pertama di Amerika Serikat. Dan Hillary diajak bergabung dalam kabinetnya menjadi Menteri Luar Negeri. Seorang calon presiden yang juga mantan First Lady Amerika Serikat mau menerima jabatan sebagai Menteri Luar Negeri.
Kita masih perlu banyak belajar jika ingin menjadi negara demokrasi yang sesungguhnya. Kebesaran hati dari orang-orang tersebut di atas sangat patut kita jadikan contoh untuk proses demokrasi di negara kita. Di negara kita kalau sudah menjadi presiden atau calon presiden, kalau sudah kalah tetap tidak mau menjadi wakil presiden apalagi cuma menteri. Saya membayangkan betapa kuat negara kita jika semua pemimpin partai, para calon presiden bergabung bersama-sama membangun negeri ini sesuai dengan bidang kemampuan masing-masing.
Tanpa mengecilkan partai-partai baru dan partai menengah pada pemilu tahun 2004. Kita ambil dari 2 partai terbesar pada pemilu 2004 yakni Partai Golkar dan PDIP serta partai pendukung utama pemerintah sekarang yakni Partai Demokrat. Misalkan ketiga partai tersebut masih mendapatkan suara yang cukup besar yakni menjadi 3 besar, maka Yusuf Kalla, Megawati dan SBY akan bersaing memperebutkan kursi presiden. Yang menang menjadi presidennya, yang nomor dua menjadi wakil presiden, sedangkan yang nomor 3 menjadi Menteri Koordinator. SBY memiliki kemampuan di bidang politik, keamanan dan diplomasi luar negeri cocok untuk Menko Polkam, Megawati yang katanya memperhatikan rakyat kecil, menciptakan sembako murah cocok menjadi Menko Kesra, sedangkan Yusuf Kalla yang berlatar belakang saudagar yang sukses, pintar dalam dunia bisnis dan perdagangan cocok untuk Menko Perekonomian. Kalau Presiden dan Wakil Presiden tentu sudah dapat mengatur ketiga bidang tersebut dengan pembagian tugas kepada pembantunya sesuai bidang kemampuan masing-masing. Dengan cara seperti ini, wakil presiden tidak perlu satu paket dengan presidennya. Pemilu presidenpun cukup satu putaran saja, bahkan satu Menko juga secara otomatis langsung terpilih, yang penting sebelum pemilu presiden 3 partai terbesar melakukan koalisi dan kesepakatan terlebih dahulu.
Akan tetapi tentu hal ini agak sulit terjadi, karena tidak ada kebesaran hati dalam menerima kekalahan, masing-masing pemimpin masih menganggap dirinya yang terbaik, orang lain tidak akan sebaik dirinya. Kalau sudah kalah masih berusaha dengan berbagai upaya, menganggap terjadi kecurangan, menghendaki pemilu ulang, seperti yang terjadi dalam Pilkada Jawa Timur. Kalau sampai benar-benar kalah, lebih baik menjadi oposisi, merasa lebih terhormat. Itulah negara kita yang menjadi negara demokrasi nomor tiga terbesar dunia setelah Amerika Serikat dan India.
Kita sebagai rakyat yang awam persoalan politik, tidak terlalu mempermasalahkan siapa yang akan menjadi presiden dan wakil presiden, asalkan para pemimpin di atas benar-benar memperjuangkan nasib rakyat, bahu membahu bersama dengan jajaran kabinet serta wakil rakyat di parlemen membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Kita butuh pemimpin yang legowo, berhati besar, bijaksana, mulia dan adil terhadap semua rakyatnya. Gunakan hak pilih kita untuk memilih sesuai dengan hati nurani kita masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)